alexametrics

Royal Guardians Iran Selalu Jadi Sasaran Para Pemberontak

15 Februari 2019, 15:49:24 WIB

JawaPos.com – Pada Rabu (13/2) waktu tempat, mobil penuh bahan peledak meletus di dekat bus yang mengangkut puluhan tentara Iran di Provinsi Sistan-Baluchistan. Presiden Iran Hassan Rouhani menyalahkan AS dan kroninya dalam aksi tersebut.

Menurut kantor berita Fars, mobil itu dikendarai anggota Jaish Al Adl (Tentara Keadilan). Mereka sengaja mengincar rombongan angkatan darat dari Royal Guardians yang baru pulang dari tugas di perbatasan Iran-Pakistan. Laporan mengenai jumlah korban sempat simpang siur.

Awalnya, Fars awalnya melaporkan bahwa setidaknya 20 orang meninggal. Angka tersebut kemudian naik menjadi 41 jiwa. Terakhir dilaporkan, 27 tentara tewas. Sebanyak 13 serdadu lainnya terluka. ’’Kejahatan ini akan menjadi noda abadi bagi pendukung teroris di Gedung Putih, Tel Aviv, dan agen regional mereka,’’ ujar Rouhani sebagaimana laporan Reuters.

Jaish Al Adl merupakan pemberontak yang beroperasi di Baluchistan. Mereka tumbuh dari tuntutan mayoritas kaum Baluchis yang beraliran Sunni.

Menurut Iran, tempat persembunyian kelompok itu berada di Pakistan. Karena itu, mereka sering melakukan serangan di wilayah perbatasan. ’’Kami tegaskan, respons kami tidak hanya terbatas di dalam negeri. Perbuatan musuh pasti bakal kami balas,’’ tegas Komandan Royal Guardians Ali Fadavi.

Royal Guardians selalu menjadi sasaran para pemberontak dan kelompok militan. Organisasi militer dengan 125 ribu anggota tersebut merupakan tulang punggung dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menyerang mereka sama dengan meneror kekuasaan Khamenei.

Karena itu, seluruh jajaran pemerintah langsung meradang mendengar kabar tersebut. Apalagi, serangan kali ini tidak berselang lama dari serangan tahun lalu. Pada September 2018, sebanyak 25 personel Royal Guardians tewas akibat serangan kelompok bersenjata di tengah parade militer di Ahvaz, Khuzestan. ’’Putra-putri bangsa Iran akan menuntut balas tumpahnya darah martir dalam insiden tersebut,’’ kata Jubir Kementerian Luar Negeri Bahram Qassemi.

Iran tidak suka sekadar mengancam. Pada 2017, mereka menembakkan misil ke wilayah ISIS di Syria setelah organisasi teror itu mengklaim bertanggung jawab atas serangan teroris yang menewaskan 17 warga sipil di Teheran. Untuk serangan di Ahvaz pada September tahun lalu, mereka menembakkan misil ke ISIS dan kelompok Kurdi di Iraq Utara.

Sementara itu, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif langsung mengaitkan insiden tersebut dengan upaya AS menekan Iran. Dia menuturkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan KTT Perdamaian Timur Tengah di Warsawa, Polandia. Salah satu agenda pertemuan yang diprakarsai AS tersebut adalah mengajak pihak internasional ikut mengembargo negara penghasil minyak itu. ’’Apakah benar bahwa teror di Iran dan ’sirkus’ Warsawa hanya kebetulan? Keduanya terjadi pada hari yang sama,’’ ungkapnya menurut New York Times.

Hamid Reza Taraghi, salah seorang politikus Iran garis keras, juga menghubungkan serangan tersebut dengan Maryam Rajavi. Pemimpin partai Mojahedin-e Khalq (MEK) yang sedang mengasingkan diri itu dianggap ikut mendalangi penyerangan terhadap tentara elite Iran.

’’Banyak rencana teror pada peringatan Revolusi Islam yang bisa digagalkan agen intelijen. Namun, serangan pengecut seperti ini sudah pasti dilakukan Arab Saudi, AS, dan MEK,’’ tegasnya.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (bil/c14/dos)



Close Ads
Royal Guardians Iran Selalu Jadi Sasaran Para Pemberontak