alexametrics

Demonstrasi Tak Kunjung Reda, Warga Hongkong Pilih Pindah

Beli Rumah Baru di Taiwan hingga Kanada
14 September 2019, 19:15:53 WIB

Aksi turun ke jalan menentang pemerintah di Hongkong tak menunjukkan tanda-tanda bakal reda. Penduduk yang mulai resah akhirnya melirik permukiman di negara-negara lain.

JawaPos.com – Lee waswas. Dia takut Hongkong tak akan pernah kembali sama. Sejak usulan RUU Ekstradisi mencuat, massa terus-menerus turun ke jalan dalam jumlah ribuan. Mereka mulai berdemonstrasi Maret lalu dan tak ada tanda-tanda bakal berhenti meski RUU yang kontroversial itu telah dicabut sepenuhnya.

”Ada banyak ketidakpastian di Hongkong,” ujar perempuan yang tak mau menyebutkan nama lengkapnya tersebut seperti dikutip Channel News Asia.

Lee mengungkapkan, orang-orang yang berusia 40 tahunan ke atas memikirkan masa depan anak-anak mereka. Mereka tidak mungkin terus tinggal di wilayah yang dilanda kerusuhan hampir setiap pekan. Polisi dan demonstran memang hampir selalu bentrok. Karena itulah, Lee dan mereka yang satu pemikiran memilih mengambil rencana B, yaitu membeli rumah baru di luar Hongkong.

Akhir Agustus lalu, Lee membeli properti di pinggiran Melbourne, Australia. Harga rumah dan tanah yang sudah dia bayar mencapai USD 410 ribu atau setara dengan Rp 5,7 miliar. Itu akan menjadi rumah cadangannya. Jika sampai ada hal buruk terjadi di Hongkong, Lee tahu harus ke mana.

Saat ini memang tidak ada data yang pasti berapa orang di antara 7 juta penduduk Hongkong yang punya rencana bermigrasi. Tapi, pengajuan visa serta meroketnya jumlah penduduk yang membeli rumah di luar negeri bisa menjadi acuan.

Sepanjang Agustus lalu, ada 3.649 permintaan surat keterangan polisi untuk aplikasi visa. Jumlah itu meningkat 54 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada 2019, permintaannya jauh lebih meningkat daripada lima tahun ke belakang.

Sejak demo memanas tiga bulan lalu, seminar-seminar bertema emigrasi membeludak. Otoritas di Malaysia, Australia, dan Taiwan mengakui ada lonjakan permintaan migrasi. Agen properti di Melbourne, Australia, dan Vancouver, Kanada, menyatakan bahwa telepon mereka tak berhenti berdering. Permintaan untuk mencarikan rumah naik. Juni lalu para pengacara dan bankir mengungkapkan bahwa para taipan Hongkong mulai memindahkan harga kekayaan mereka ke Singapura dan negara-negara lainnya.

Kanada, Australia, dan Singapura menjadi jujukan bagi kalangan menengah ke atas. Tapi, penduduk kalangan menengah memilih alternatif yang lebih murah. Malaysia salah satunya. Harga permukiman dan biaya hidup di negara tersebut masih terjangkau. Taiwan yang memiliki budaya hampir sama dengan Hongkong juga menjadi pilihan.

Konsultan Properti Bruce Lee mengungkapkan, banyak penduduk Hongkong yang menyerbu proyek permukiman Forest City di Johor, Malaysia. Sejak Juni lalu, sudah 800 unit terjual. Padahal, sejak dipasarkan 2016 hingga Juni, hanya 200 unit yang laku.

Pengakuan serupa diungkapkan agen properti di Sydney Peter Wong. Bulan lalu ada sekitar enam pembeli dari Hongkong yang menghubunginya. Padahal, selama satu dekade ini dia belum pernah mendapatkan banyak pembeli dari wilayah otonomi khusus Tiongkok tersebut. Karena permintaan yang tinggi itulah, Hongkong kini dianggap sebagai sasaran empuk untuk menawarkan proyek properti.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c22/sof)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads