alexametrics

Kepolisian Lakukan Sterilisasi, Bandara Hongkong Kembali Beroperasi

14 Agustus 2019, 16:25:38 WIB

JawaPos.com – Otoritas Bandara Internasional Hongkong kembali mengaktifkan operasional bandara pada Rabu (14/8) pagi waktu setempat setelah sempat membatalkan jadwal penerbangan pada Selasa (13/8) sore. Hal itu dilakukan setelah situasi di bandara kondusif dan pengunjuk rasa telah dibubarkan oleh aparat kepolisian.

Selain itu, otoritas bandara mendapatkan izin dari pengadilan setempat untuk mensterilkan terminal keberangkatan dan kedatangan dari pengunjuk rasa. Tentunya otoritas bandara mendapat back up dari aparat kepolisian.

Tindakan represif dilakukan aparat kepolisian Hongkong untuk mensetrilkan bandara. Mereka diperintahkan untuk menangkap dan menahan pihak yang dengan sengaja mengganggu operasional bandara. Dengan kata lain, kepolisian Hongkong berwenang menangkap dan menahan para demonstran yang masih ngeyel tetap menduduki bandara.

“Publik dilarang menghadiri atau berpartisipasi dalam demonstrasi atau protes yang mengganggu ketertiban umum di bandara. Selain di wilayah yang ditunjuk oleh otoritas bandara,” bunyi pernyataan resmi Otoritas Bandara Hongkong seperti dilansir Al Jazeera.

Seperti diketahui, aksi demonstran pada Selasa (13/8) sejak siang hari membuat otoritas bandara memutuskan membatalkan ratusan penerbangan dari Hongkong.
Dua hari demonstrasi pada Senin dan Selasa telah menyebabkan pembatalan penerbangan massal dan memicu bentrokan antara demonstran dan polisi.

Aparat Kepolisian Hongkong melakukan pembubaran demonstrasi dengan cara represif (MANAN VATSYAYANA / AFP)

Kerusuhan di bandara dimulai pada Selasa (13/8) sore, ketika otoritas penerbangan membatalkan ratusan penerbangan untuk hari kedua berturut-turut. Ribuan demonstran pro demokrasi kembali ke terminal keberangkatan bandara untuk mengekspresikan kemarahan atas kebrutalan polisi terhadap demonstran sebelumnya menurut mereka.

Aparat kepolisian lantas melakukan tindakan tegas. Mereka bertindak represif untuk mensterilkan bandara. Kepolisian juga menuduh demonstran melakukan tindakan berbahaya dengan menahan seorang pria yang mereka curigai sebagai petugas yang menyamar dari Tiongkok. Seorang pria juga mereka sandera yang menurut mereka jurnalis untuk media Tiongkok milik pemerintah.

Untuk membubarkan pengunjuk rasa, aparat kepolisian Hongkong menembakkan semprotan merica. Selain itu, polisi juga melakukan penangkapan demonstran yang dianggap sebagai provokator.

Tekait situasi yang makin memanas, perwakilan Tiongkok di Hongkong dan Makao mengecam tindakan pengunjuk rasa dan menyebut aksi mereka seperti teroris. “Kami mengecam aksi pengunjuk rasa. Tindakan mereka seperti teroris,” beber Xu Luying, juru bicara Dewan Urusan Negara Hongkong dan Makau.

Dia menyebut dua pria yang sempat disandera para demonstran merupakan rekan senegaranya di Tiongkok. Xu menambahkan bahwa aksi-aksi pengunjuk rasa yang sudah terlalu jauh masuk dalam kejahatan yang sangat keji dan layak dihukum berat.

Bandara Hongkong memang telah kembali beroperasi, namun situasi di sana belum normah sepenuhnya. Pengunjuk rasa sewaktu-waktu akan kembali turun ke jalan. Kondisi Hongkong dalam 10 minggu terakhir memang sangat tidak kondusif. Jutaan orang turun ke jalan untuk menentang RUU Ekstradisi. Ini menjadi tantangan besar Tiongkok untuk meredakannya sejak penyerahan dari Inggris pada 1997 silam.

Pembatalan penerbangan massal dari Bandara Hongkong dalam dua hari yakni Senin dan Selasa (12-13 Agustus 2019) membuat ekonomi Hongkong dipertaruhkan. Bandara Hongkong merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Tiongkok sendiri sudah mengultimatum bahwa kerusuhan harus diakhiri. Artinya, mereka kemungkinan besar akan menurunkan pasukan keamanan untuk mencegah warga Hongkong turun ke jalan kembali.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Rabu (14/8), Gordon Chang, seorang pakar Tiongkok, mengatakan bahwa salah satu cara untuk meredakan situasi adalah meminta Carrie Lam, pemimpin Hongkong, untuk mundur dari jabatannya. Namun, Chang ragu Tiongkok akan melakukannya.

“Tiongkok tidak akan melakukan itu, karena mereka tidak ingin para pengunjuk rasa menang,” imbuh Chang.

Maklum saja, selain menuntut dicabutnya RUU Ekstradisi, tuntutan para demonstran lainnya adalah Carrie Lam mundur dari jabatannya. Andai Carrie Lam mundur, berarti kemenangan bagi demonstran.

Editor : Edy Pramana

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads