JawaPos Radar

Trump tak Puas dengan Kesepakatan Pembatasan Nuklir Iran

14/01/2018, 13:55 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Trump tak Puas dengan Kesepakatan Pembatasan Nuklir Iran
Presiden AS Donald Trump (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Iran akan melakukan pembalasan terhadap sanksi baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) kepadanya. Presiden AS Donald Trump memberi sebuah ultimatum kepada Iran untuk memperbaiki dan menegosiasikan kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran.

Trump memberikan kesempatan kepada AS dan sekutu Eropa untuk mengamandemen kesepakatan pembatasan nuklir Iran tersebut. Dalam kesempatan itu, AS juga menjatuhkan sanksi kepada Kepala Pengadilan Iran dan lainnya.

Rusia adalah salah satu pihak dalam kesepakatan pembatasan nuklir Iran, selain AS, Tiongkok, Prancis, Inggris, Jerman dan Uni Eropa. Rusia memberi tanggapan, komentar Trump sangat negatif.

Trump tak Puas dengan Kesepakatan Pembatasan Nuklir Iran
Iran (Hotfix)

Ultimatum itu memberi tekanan pada orang-orang Eropa, pendukung utama kesepakatan nuklir 2015 hanya untuk memuaskan Trump. Ia menginginkan perjanjian tersebut diperkuat dengan kesepakatan terpisah dalam waktu 120 hari.

Sambil menyetujui pengabaian sanksi AS sehubungan dengan kesepakatan nuklir, Washington mengumumkan sanksi lainnya terhadap 14 entitas dan orang Iran, termasuk Kepala Pengadilan Ayatollah Sadeq Larijani, sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Kementerian Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menggambarkan sanksi terhadap Larijani adalah tindakan permusuhan. "Ini merupakan pelanggaran hukum internasional dan pasti akan dijawab oleh reaksi serius Republik Islam," katanya, Minggu, (14/1).

Zarif sebelumnya mengatakan di Twitter kalau kesepakatan tersebut tidak dapat dinegosiasikan kembali. Juga, langkah Trump berarti usaha keras untuk merongrong sebuah kesepakatan multilateral yang solid.

Iran mengatakan, program nuklirnya hanya memiliki tujuan damai dan akan mematuhi kesepakatan tersebut selama orang lain menghormatinya. Tapi telah dikatakan akan menghancurkan kesepakatan jika AS keluar.

(Reuters/iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up