JawaPos Radar

Banyak Politisi Sarankan Trump dan Kim Dianugerahi Nobel Perdamaian

13/06/2018, 13:56 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Banyak Politisi Sarankan Trump dan Kim Dianugerahi Nobel Perdamaian
Kim dan Trump sepakat denuklirisasi Semenanjung Korea (AP)
Share this image

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong Un pada hari Selasa, (12/6), menandatangani perjanjian denuklirisasi Semenanjung Korea. Seperti dilansir AFP, perjanjian tersebut menegaskan kembali komitmen Pyongyang untuk denuklirisasi menyeluruh pada Semenanjung Korea.

Sejumlah komentator dan politisi menyarankan agar Trump dan Kim dianugerahi Nobel Perdamaian atas upaya mereka bagi perdamaian di Semenanjung Korea. Tetapi para ahli mengatakan, hadiah bergengsi tersebut terlalu dini untuk diberikan pada Trump maupun Kim.

Ketepatan waktu dan kepribadian diperhitungkan terhadap kedua pemimpin dunia tersebut. Trump telah memberikan kejutan diplomasi internasional lain seperti menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir penting dengan Iran.

Banyak Politisi Sarankan Trump dan Kim Dianugerahi Nobel Perdamaian
Kim dan Trump lakukan pertemuan puncak di Singapura (AFP)

Sementara Kim bersalah atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia. "Ini terlalu dini," ujar Asle Sveen, seorang sejarawan yang mengkhususkan diri dalam hadiah Nobel membahas tentang prospek untuk penghargaan Kim-Trump.

"Tetapi jika perjanjian itu mengarah pada pelucutan senjata nyata di Semenanjung Korea, akan sangat sulit untuk tidak menghadiahkan mereka Nobel Perdamaian. Ini akan menjadi situasi yang aneh, tetapi itu terjadi di masa lalu, bahwa orang-orang dengan kekerasan yang cukup besar di masa lalu telah menerima hadiah Nobel Perdamaian," kata Sveen.

Bahkan sebelum pertemuan di Singapura, beberapa orang, termasuk Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, mantan Presiden AS Jimmy Carter, dan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menyarankan Trump berhak mendapatkan Nobel Perdamaian.

Salah satu nominasi Hadiah Nobel Perdamaian untuk Trump telah dibatalkan setelah kasus penipuan identitas terungkap awal tahun ini. Tetapi Partai Republik telah menominasikannya untuk 2019 sebagai pengakuan atas pekerjaannya yang tak kenal lelah untuk membawa perdamaian ke dunia.

Dan pada tahun 2000, Nobel Perdamaian diberikan kepada mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae Jung atas upaya rekonsiliasi dengan Korut.

Kepala Lembaga Riset Perdamaian Stockholm SIPRI, Dan Smith setuju bahwa Nobel Perdamaian menjadi prematur bila diberikan sekarang.

Peter Wallensteen, seorang profesor Swedia yang mengkhususkan diri dalam Hubungan Internasional, mengatakan, Presiden Korea Selatan Moon Jae In layak untuk dimasukkan sebagai nominator Nobel Perdamaian.

"Sebenarnya, Moon mungkin yang paling pantas mendapatkan ini, tapi itu akan menjadi tamparan bagi Trump," tegasnya.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up