JawaPos Radar

Myanmar Dirikan Fasilitas Keamanan di Tanah Rohingya yang Direbut

13/03/2018, 20:34 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Myanmar Dirikan Fasilitas Keamanan di Tanah Rohingya yang Direbut
Etnis Rohingya mengungsi, menyelamatkan diri dari kekejaman militer Myanmar (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Myanmar kini tengah membangun berbagai fasilitas keamanan di desa-desa milik etnis Rohingya yang dibuldozer Pemerintah Myanmar. Langkah ini membuat Amnesty International meragukan rencana pemulangan ratusan ribu pengungsi Rohingya dari Bangladesh.

Hampir 700.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara bagian Rakhine Utara ke Bangladesh sejak Myanmar melakukan tindakan brutal terhadap etnis Rohingya akibat serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) terhadap 30 pos polisi Myanmar Oktober 2017 lalu. Aksi ini dibalas dengan pemusnahan etnis Rohingya oleh militer Myanmar.

PBB menyebut aksi brutal militer Myanmar terhadap etnis Rohingya dengan sebutan pemusnahan etnis. Namun Myanmar menolak tudingan PBB tersebut dengan mengatakan, pihaknya hanya membalas serangan ARSA.

Myanmar Dirikan Fasilitas Keamanan di Tanah Rohingya yang Direbut
Derita Etnis Rohingya di bawah penindasan Pemerintah Myanmarnmar (Kokoh Praba Wardani/Infografis)

Beberapa kritikus menuduh militer Myanmar menggunakan serangan ARSA untuk meluncurkan dan memuluskan operasi pembersihan etnis Rohingya dan mengusir kaum minoritas tersebut seperti dilansir Gulf news, Senin, (12/3).

Melalui laporan terbaru Amnesty International yang berjudul 'Remaking Rakhine State' dengan mengambil data dari citra satelit dan wawancara, rupanya terlihat peningkatan pesat dalam infrastruktur militer Myanmar militer dan pembangunan konstruksi baru lainnya di tanah yang direbut dari orang-orang Rohingya.

Direktur Respons Krisis Amnesty International Tirana Hassan mengatakan, bukti baru dan pembangunan kembali desa-desa Rohingya yang dibuldozer telah didokumentasikan Amnesty International dalam penelitian terbaru.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pihak berwenang Myanmar sedang membangun tempat-tempat untuk kembalinya masyarakat Rohingya."Selain itu juga ada bukti-bukti penghancuran sejumlah rumah orang Rohingya," kata Hassan.

Amnesty International menyebut, bukti menunjukkan sudah mulai dibangun fasilitas bagi  pasukan keamanan, helipad, dan jalan-jalan baru di atas tanah Rohingya yang dihancurkan.

Meskipun Myanmar dan Bangladesh berencana memulangkan pengungsi Rohingya pada akhir Januari lalu, namun banyak orang Rohingya yang enggan pulang ke tanah airnya di Myanmar tanpa ada kepastian keamanan.

Sikap Myanmar yang mulai membangun berbagai struktur keamanan di atas tanah Rohingya yang direbut juga memupuskan harapan kembalinya Rohingya ke sana.

(ina/iml/trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up