alexametrics

Pengungsi Syria Diperdagangkan sebagai PSK di Lebanon

Ditipu Pernikahan, Tertangkap Dipenjara
13 Februari 2020, 02:30:19 WIB

Pengungsi Syria bagai keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Mereka lolos dari maut di tanah kelahirannya, tapi berakhir dengan dijual sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Lebanon.

SITI AISYAH, Jawa Pos

JawaPos.com – “Jam menunjukkan pukul 20.00 saat sebuah mobil SUV berhenti di dekat persimpangan Daoura dekat Bourj Hammoud, Distrik Armenia, Beirut, Lebanon, Sabtu (8/2). Seorang perempuan mendekati mobil tersebut. Dia berbicara dengan pengemudi di dalamnya. Sejurus kemudian, perempuan tersebut masuk ke mobil hitam itu.

”Mereka mencapai kesepakatan,” ujar Ray, relawan Jesuit (Serikat Jesus), salah satu ordo (tarekat) kerohanian Katolik. Dia datang bersama sang suami, Paul. Pasangan tersebut tengah mengamati bagaimana prostitusi di Lebanon berjalan. Perempuan yang masuk ke mobil itu adalah salah satu penjaja seks komersial (PSK) di wilayah tersebut.

Paul yang sudah 20 tahun menjadi relawan untuk gereja itu mengungkapkan bahwa para penjaja prostitusi di wilayah tersebut berasal dari Lebanon, Afrika Timur, dan Syria. Yang terbanyak adalah perempuan Syria. Mereka tidak bekerja sendiri, tapi dikontrol oleh jaringan perdagangan manusia. Paul tahu sendiri karena dia pernah berupaya menyelamatkan salah satunya dan membawanya ke lembaga HAM terdekat. Namun begitu ketahuan, dia dipukuli dan diancam oleh ”pemilik” PSK tersebut.

Para PSK itu tidak bekerja secara sukarela. Mereka ingin keluar dan hidup normal. Tapi, yang terjadi biasanya mereka hanya berpindah dari satu mucikari ke mucikari lainnya. Semua jaringan perdagangan manusia di Lebanon terhubung sehingga rasanya sulit untuk lari.

Al Jazeera mengungkapkan bahwa ada beberapa cara untuk menjebak para perempuan Syria. Yang pertama adalah dengan menikahi mereka. Sang suami adalah pelaku perdagangan manusia. Dialah yang bakal menjual istri sendiri. Perang sipil berkecamuk di Syria selama sembilan tahun belakangan ini. Mayoritas penduduknya memang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Karena itulah, tawaran menikah dan pergi dari negara yang karut-marut mungkin menggiurkan.

Penyelundupan lintas perbatasan juga marak terjadi. Dalam beberapa kasus, para perempuan Syria itu direkrut paksa dari kamp-kamp pengungsian. Sebagian lainnya dijual sendiri oleh keluarga mereka. Entah karena putus asa atau termakan janji-janji manis pelaku perdagangan manusia.

Mayoritas PSK menjajakan diri di Beirut dan Jounieh. Ada sekitar 800 wanita malam yang bekerja di dua lokasi tersebut. Namun, jumlahnya bisa jadi lebih banyak karena tidak pernah ada pendataan. International Organisation for Migration (IOM), Badan Pengungsi PBB (UNHCR), dan lembaga HAM lainnya menyatakan bahwa jumlah PSK di Lebanon mencapai ribuan orang.

Kepala Unit Anti Penyelundupan di LSM Kafa Ghada Jabbour mengungkapkan bahwa pemerintah tidak melakukan langkah yang cukup untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang diselundupkan itu ketika mereka sampai di Lebanon.

Mereka yang menjadi korban perdagangan manusia ibarat makan buah simalakama. Tak lapor disiksa, lapor bisa dipenjara karena melakukan prostitusi ilegal.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (*/c6/dos)


Close Ads