JawaPos Radar | Iklan Jitu

Korut Kecewa Korsel-AS Lakukan Latihan Militer Gabungan

12 November 2018, 12:23:16 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
korut, korsel,  denuklirisasi korut, rudal korut,
Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi pada pertemuan puncak bulan Juni mereka di Singapura (Times of Israel)
Share this

JawaPos.com - Media Pemerintah Korea Utara (Korut) memberitakan, kembalinya latihan gabungan militer antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) melanggar kesepakatan yang bertujuan untuk menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea. Sekitar 500 tentara AS dan marinir Korsel memulai latihan militer pada pekan lalu.

Program Pertukaran Laut Korea (KMEP) melanggar perjanjian 19 September yang ditandatangani oleh Korut dan Korsel yang menyerukan penghentian semua tindakan bermusuhan. Latihan dua minggu bersama secara langsung menentang perjanjian militer antar-Korea yang berjanji untuk menghilangkan ancaman praktis perang dan hubungan bermusuhan dari semenanjung Korea.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan Korsel menolak kritik dari Korut tersebut. Dia mengatakan, hal yang mereka lakukan adalah latihan bertahan yang melibatkan unit-unit kecil di bawah ukuran batalion.

korut, korsel,  denuklirisasi korut, rudal korut,
Media Pemerintah Korea Utara (Korut) memberitakan, kembalinya latihan gabungan militer antara Korea Selatan (Korsel) dan AS melanggar kesepakatan menurunkan ketegangan di Semenangjung Korea (KCNA)

Padahal, Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi pada pertemuan puncak bulan Juni mereka di Singapura. Trump berjanji untuk mengakhiri latihan militer bersama Korsel

Sementara itu, pekan lalu Korut membatalkan pertemuan yang direncanakan dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di New York. "Ini batal karena mereka belum siap," kata Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley dilansir dari Reuters pada Senin (12/11).

Korut memperingatkan, negara itu dapat memulai kembali pengembangan senjata nuklirnya jika AS tidak membuat lebih banyak konsesi.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up