JawaPos Radar

Dua Persinggahan Presiden Jokowi di Korea

Ivan Adilla*

12/09/2018, 12:10 WIB | Editor: Ilham Safutra
Dua Persinggahan Presiden Jokowi di Korea
Presiden Joko Widodo saat berada di Hankuk University of Foreign Studies, Seol. (Laily Rachev SETPRES)
Share this image

JawaPos.com - Awal minggu ini Presiden Indonesia, Joko Widodo, berkunjung ke Korea Selatan. Melalui cuitan di twitternya hari ini, Selasa, 11 September Presiden Korea Selatan menyatakan bahwa kunjungan Presiden Jokowi sebagai sesuatu yang berhasil. “Saya merasa persahabatan antara kami menjadi lebih dalam seperti hari yang indah pada musim gugur Korea”, tulis presiden di @moonriver365, dalam Bahasa Indonesia. Ungkapan ini tidak berlebihan antara dua kepala negara yang memiliki hubungan baik itu. Dalam relaeasenya, Ketua BKPM Thomas T. Lembong menyatakan bahwa dalam kunjungan Presiden Jokowi kali ini telah tercapai kesepakatan untuk kerjasama bisnis senilai 6,2 milyar dolar Amerika yang mencakup 15 nota kesepahaman dan 6 komitmen investasi.

Selain melakukan pertemuan kenegaraan dan bisnis, Presiden Jokowi juga mengunjungi wilayah Dongdaemun dan memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) di kampus Seoul. Berikut adalah catatan tentang dua tempat yang dikunjungi Presiden Jokowi di Korea.

Dua Persinggahan Presiden Jokowi di Korea
Presiden Joko Widodo saat berada di Hankuk University of Foreign Studies, Seol. (Laily Rachev SETPRES)

Etalase Desain dan Produk Korea

Salah satu bidang yang ditawarkan Presiden Jokowi untuk bekerja sama dengan Korea adalah indutri kreatif. “Saya terkesan dengan keberhasilan Korea mengenalkan K-Pop ke seluruh dunia”, kata presiden dalam kuliah umum di HUFS. Gagasan itu rupanya disambut dengan cerdik oleh Presiden Moon Jae-in dengan mengajak Presiden Jokowi mengunjungi pasar Dongdaemun.

“Saya merasa seperti berada di Tanah Abang, Jakarta”, katanya. Kesan Pak Jokowi tak salah. Dongdaemun adalah pasar modern yang menjual produk-produk Korea dalam aneka desain dan harga menarik. Ada beberapa jenis toko yang disediakan bagi pedagang. Ada yang berupa mal besar hingga delapan lantai, dengan item barang berbeda setiap lantainya.

Mal seperti itu menjulang di berbagai sisi wilayah Dongdaemun. Ada juga toko lebih kecil di sekitar stasiun yang menjual aneka aksesoris, cindera mata hingga aneka makanan dan minuman. Wilayah stasiun, terutama stasiun transit seperti Dongdaemun, merupakan tempat belanja favorit bagi orang-orang di Korea. Tempat itu mudah dijangkau sambil lewat dan menawarkan harga yang bersahabat. Jika haus atau lapar setelah berkeliling, anda bisa mampir di toko makanan atau minuman yang banyak tersedia. Toko minuman itu tidak begitu besar, tapi ditata dengan rapi, nyaman, dan menarik.

Dua bulan di Korea, saya mengunjungi pasar Dongdaemun. Kebiasaan saya adalah menemukan barang produk lokal. Barang seperti itu tersedia di deretan toko-toko sepanjang jalan. Pedagang di toko satu lantai itu dengan bangga menawarkan jualan mereka, “Made in Korea, made in Korea. Good quality!”. Aneka barang tersusun rapi, dalam beragam mode dan bahan. Sejak dari tas, topi, pakaian hingga aksesoris. Banyak toko yang hanya menjual barang kecil tapi lengkap; kaos kaki, topi, pewarna kuku, hingga tali sepatu. Semua item itu tersedia dalam aneka warna, jenis bahan, dan disain. Tali sepatu, bahannya aneka macam, apalagi corak dan warnanya. Begitu juga toko pewarna kuku; ada yang wana polos atau bercorak; yang datar atau bertekstur. Ada yang dipakai dengan cara dioles, tapi ada juga yang ditempel. Kala dipakai, ada yang terlihat biasa saja, tapi ada juga yang berkilat-kilat. Sungguh, saya tak bisa membayangkan ada toko yang hanya menjual barang ‘remeh-temeh’ seperti itu sebelumnya.

Saya membeli sepasang sepatu kets warna putih. Harganya 30.000 won, jauh lebih murah dari produk sejenis merek luar negeri yang rata-rata di atas 45.000 won. Sepatu itu nyaman dipakai dan kuat, sehingga menjadi ‘kendaraan’ saya untuk pergi dan pulang ke kampus. Saya juga mampir ke sebuah mal berlantai 7 tak jauh dari sana. Mal dengan aneka produk fesyen, sejak dari anak-anak hingga dewasa, dan untuk berbagai keperluan. Sebagian besar barang itu produk Korea, yang ditulis dengan jelas di label. Justru di pasar ini sulit menemukan barang produk luar.

Ikon dan jantung dari wilayah ini adalah sebuah bangunan besar yang menyolok; Dongdaemun Design Plaza (DPP). Bangunan berbahan metal yang dirancang arsitek wanita Mesir ini terdiri dari empat lantai yang mencakup museum, arena pendidikan, ruang pameran dan toko disain. Bangunan melengkung tanpa sudut ini amat indah di malam hari karena terdapat taman lampu berbentuk bunga. Akhir tahun lalu ini saya mengunjungi tempat ini untuk melihat DPP Young Disegner Challenge. Desainer muda, sebagian masih mahasiswa jurusan seni desain, dipilih dan karya mereka dipamerkan di tempat ini selama satu bulan.

Desain yang ditawarkan menyangkut produk, karya visual, film, arsitektur, furnitur, konsep kendaraan, hingga hal-hal yang tematik. Jenis desain dan konsepnya yang beragam begitu mengasyikkan. Ajang seperti itu menjadi agenda tetap di gedung ini. Gedung ini ibarat rahim yang melahirkan produk produk yang dijual di toko dan mall sekitar. Di sini para disainer difasilitasi dan bersaing menampilkan karya mereka.

Beberapa kali berkunjung ke sini, pengunjung yang dominan justru orang asing. Gedung ini ibarat etalase bagi desainer untuk menawarkan karya mereka. Peminat dapat menghubungi disainer pada alamat email yang disertakan di katalog dan kartu nama yang disediakan. Karya disain itulah yang kemudian memasuki pasar untuk bersaing dan diproduksi massal. Jadi Dongdaemun lebih dari sekadar pasar tempat menjual barang; ia adalah rahim tempat disainer menyemai dan menampilkan gagasan.

Pada sisi ini, Dongdaemun berbeda dari Tanah Abang. Tapi justru dari perbedaan itu kita bisa belajar. Mana tahu, ada gagasan juga untuk membuat plaza disain yang menampilkan karya kreatif yang kemudian berlanjut menjadi barang yang diproduksi massal di toko-toko. Setidaknya, kebanggaan pedagang Dongdaemun pada produk lokal bisa ditiru. Itu lebih sehat daripada membajak disain dan merek!

Hankuk University
Pada hari terakhir kunjungan, Presiden Jokowi memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) di Seoul. Beliau memaparkan pentingnya perdamaian antarnegara, dan menjelaskan langkah yang ditempuh Indonesia dalam usaha membangun dan perdamaian di kawasan. Misalnya usaha mempertemukan pihak yang bertikai di Afganistan, kunjungan ke pengungsi Rohingya dan pertemuan ulama internasional. Dalam konteks itulah beliau menyambut baik usaha Presiden Presiden Moon Jae-in untuk melakukan dialog dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Menjawab pertanyaan mahasiswa dalam sesi tanya jawab, Presiden Jokowi menyatakan kebanggaannya bisa mempertemukan Perdana Menteri Korea Selatan dan Deputi Perdana Menteri Korea Utara. Sebagaimana diketahui, dalam pesta olahraga Asia itu, semenanjung Korea tampil bersama dalam beberapa cabang olahraga.

Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) adalah perguran tinggi yang memberi perhatian utama untuk studi luar negeri. Didirikan pada 1954, di universitas ini diajarkan 45 bahasa asing dari seluruh dunia. Setiap tahun dosen asing diundang untuk mengajar. Pusat studi tentang berbagai wilayah juga digalakkan di sini, termasuk tentang Asia Tenggara.

Pusat pelatihan bahasa asing milik universitas setiap saat menyediakan program pelatihan bagi pegawai perusahaan yang akan bertugas di luar negeri. Untuk Bahasa Indonesia, hampir tiap tahun perusahaan Samsung, Lotte dan beberapa perusahaan finansial mengirim pegawai mereka untuk dilatih. Bisa dikatakan kampus ini menjadi kawah candradimuka bagi para diplomat dan pebisnis Korea yang bertugas dan mengembangkan usaha mereka di berbagai belahan dunia.

Pada tahun 1964, Bahasa Indonesia mulai diajarkan dan mendapat respons baik dari calon mahasiswa Korea. Dalam beberapa tahun terakhir, kampus ini menerima sekitar 60 orang mahasiswa baru jurusan Indonesia untuk dua kampus mereka, di Seoul dan Yongin. Untuk ukuran Korea, itu jumlah yang cukup banyak, karena satu lokal hanya terdiri dari 15 mahasiswa. Jadi HUFS menyediakan empat lokal setiap tahun. Bahasa Indonesia salah satu yang banyak diminati, bersama dengan Bahasa Inggris, Tiongkok, Arab, dan Jepang.

Sebagaimana biasa, Presiden Jokowi tampil santai. Kuliah umum itu juga diselingi guyonan, saat presentasi maupun tanya jawab. Selesai kuliah umum, Presiden Jokowi dihadiahkan jaket almamater warna putih dengan bendera merah-putih di bahu kiri. Spontan Pak Jokowi membuka jas, dan memakai jaket alamamater HUFS berbahan kaos yang sporty itu. Paling ramai adalah saat sesi swafoto bersama presiden. Begitu sesi itu diumumkan, mahasiswa tumpah ruah dan mengerubungi Presiden Jokowi dan Ibu Iriana untuk berswafoto. Presiden dengan ramah melayani permintaan mahasiswa ini. Usai acara, sebagian besar mahasiswa menunjukkan dengan bangga hasil swafoto mereka dengan sang presiden. “Saya hampir kehabisan waktu, tapi tiba-tiba Ibu Iriana menggamit dan mempersilahkan saya berfoto dengan Presiden dan Ibu”, kata seorang mahasiswa sambil menunjukkan swafotonya. Mereka begitu terkesan dengan keramahan dan sikap akrab Presiden Jokowi.

Kunjungan dan kuliah umum Presiden Jokowi ke HUFS merupakan pilihan yang tepat. Berbagai kepala negara pernah memberikan kuliah di kampus ini. Sejak dari Presiden Mongolia, Raja Swedia, Presiden Michael Gorbachev, Sekjen PBB Ban Ki-moon, hingga Presiden Barrack Obama. Presiden Jokowi merupakan kepala negara yang ke-18 yang berkunjung dan memberikan kuliah umum di kampus HUFS. Keramahan dan sikap egaliter Presiden Jokowi dalam kuliah umum kemarin meninggalkan kesan baik tentang Indonesia. Peserta terkesan pada sikap akrab, spontan dan minim fomalitas sang presiden.

Kesan positif itu seharusnya akan lebih kuat andai kuliah umum Presiden Jokowi didukung presentasi visual yang cantik dan efektif. Pilihan presentasi-visual dalam kuliah umum kemarin bukan saja membosankan karena stagnan, tapi juga secara disain visual tidak menarik karena didominasi warna orange terang yang kurang ramah di mata. Tim kepresiden selayaknya menyiapkan bahan presentasi visual yang lebih menarik dan efektif. Hal demikian merupakan kebutuhan wajib di era digital, apalagi untuk presentasi di negara seperti Korea yang melek teknologi serta amat memperhatikan kerapian, keindahan dan keteraturan.

*) Ivan Adilla, dosen Universitas Andalas, Padang, dan pengajar tamu di HUFS, Global Campus, Korea.

(*/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up