JawaPos Radar

AS Desak Pembebasan Pemimpin Oposisi Kamboja

12/09/2018, 06:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
AS Desak Pembebasan Pemimpin Oposisi Kamboja
Pemimpin Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) Kem Sokha telah dibebaskan setelah menghabiskan waktu lebih dari satu di balik jeruji besi (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Pemimpin Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) Kem Sokha telah dibebaskan setelah menghabiskan waktu lebih dari satu di balik jeruji besi. Ia ditangkap setelah terlibat dalam penumpasan yang dipimpin pemerintah terhadap para kritikus, namun Amerika Serikat (AS) mendesak untuk membatalkan semua tuduhan pada Sokha.

AS mendesak Pemerintah Kamboja untuk membatalkan semua tuduhan terhadap pemimpin oposisi Kem Sokha, yang dibebaskan dengan jaminan namun ditempatkan di bawah tahanan rumah pada Selasa, (11/9). Kem Sokha dibebaskan pada Senin, (10/9), atas tuduhan pemberontakan, namun dia masih berstatus sebagai tahanan ibu kota.

Sokha, 65 tahun, adalah pemimpin Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) yang telah dibubarkan sebelum pemilihan umum 29 Juli lalu. Juru Bicara Kedutaan Besar AS untuk Kamboja Emily Zeeberg melalui email menyatakan, Pemerintah AS memperhatikan pengalihan Sokha sebagai tahanan kota dan belum dibebaskan secara penuh.

"Kami terus menyerukan kepada pemerintah Kamboja untuk membatalkan semua tuduhan terhadap Sokha, menghapus pembatasan pada hak-hak politiknya dan pemimpin oposisi lainnya dan melibatkan para pemimpin oposisi dalam dialog mendesak yang ditujukan untuk membangun rekonsiliasi nasional sejati," kata Zeeberg dalam pernyataan seperti dilansir Reuters.

Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen dari Partai Rakyat Kamboja memenangkan semua kursi parlemen dalam pemilihan yaitu sebanyak 125 kursi pada pemilihan lalu. Terkait itu, Jubir Pemerintah Kamboja Phay Siphan mengatakan, kondisi jaminan Kem Sokha nantinya akan diputuskan oleh pengadilan.

"Ini adalah yurisdiksi pengadilan bahwa tidak ada lembaga, tidak ada LSM atau tidak ada negara asing yang dapat mengganggu," kata Siphan.

Sementara itu, Hun Sen kini berada di bawah tekanan untuk membebaskan Sokha. Menurut para pengamat, dia telah melonggarkan sikapnya terhadap para kritikus sejak kemenangan pemilu Juli lalu.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up