alexametrics

Ahli Bedah dari Partai Vamos Terpilih jadi Presiden Guatemala

12 Agustus 2019, 22:47:20 WIB

JawaPos.com – Guatemala telah merampungkan putaran kedua pemilihan presiden pada Minggu (11/8) waktu setempat. Hasilnya, ahli bedah dari Partai Vamos, Alejandro Giammattei, keluar sebagai pemenang. Mantan direktur sistem penjara di Guatemala tersebut meraih 58,8 persen suara.

Giammattei sendiri mengalahkan mantan Ibu Negara Sandra Torres dari Partai National Unity of Hope, yang mendapat sekitar 41 persen suara. Selama kampanye, Giammattei menyorot masalah memerangi kejahatan dan korupsi.

“Hari ini adalah periode baru negara ini (Guatemala),” sebut Giammattei kepada para pendukung di markas partai di Guatemala City usai memastikan kemenangan dalam pemilihan presiden.

“Mereka yang memilih kami, mereka yang tidak memilih kami, dan mereka yang tidak memilih, tidak masalah. Hari ini kita semua harus bersatu, hari ini saya adalah presiden semua warga Guatemala,” tegasnya.

Bagi Giammattei, ini untuk keempat kalinya dia mencalonkan diri sebagai presiden negara Amerika Tengah yang masih dihantui kekerasan, kemiskinan, dan korupsi. Namun, dalam tiga kesempatan sebelumya selalu gagal yakni pada 2007, 2011, dan 2015. Menariknya, dia menderita penyakit tulang selama bertahun-tahun dan bergantung pada kruk untuk berjalan. Giammattei akan mulai menjabat pada 14 Januari 2020. Dia menggantikan presiden sebelumnya, Jimmy Ernesto Morales Cabrera.

Kemenangan Giammattei tak lepas dari banyaknya warga yang berbalik mendukungnya. Itu karena pesaingnya, Sandra Torres dituduh melakukan korupsi dan pelanggaran keuangan dalam kampanye selama pemilihan presiden 2015 melawan presiden saat ini, Jimmy Morales.

“Saya memutuskan untuk memilih melawan Sandra Torres karena tuduhan korupsi,” ucap Rosa Julaju, seorang wanita asli Kaqchikel yang tinggal di Guatemala City, mengungkapkannya kepada Al Jazeera.

“Saya harap Giammattei mampu menghentikan kekerasan di negara ini,” imbuh Rosa yang merupakan pedagang jalanan. “Aku memilih dia untuk keamanan yang lebih baik,” tegasnya.

Kampanye Giammattei menitikberatkan pada kekuatan untuk melawan kejahatan, memperlakukan anggota geng seperti teroris sehingga harus dilawan, melegalkan hukuman mati, dan menghimpun banyak dana untuk memerangi migrasi dari Guatemala. Giammattei juga menegaskan akan menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dan menentang komunitas LGBT.

Hanya saja, terpilihnya Giammattei menimbulkan kekhawatiran dari pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). Itu karena Giammattei memiliki rekam jejak yang kurang baik dalam hal HAM dan kampanye yang digaungkan dianggap berpotensi mencederai HAM.

“Giammattei secara terbuka mengatakan bahwa dia tidak akan mentolerir tindakan pengunjuk rasa yang merupakan bagian dari sistem demokrasi,” ucap Claudia Samayoa, pegiat hak asasi manusia Guatemala yang tergabung dalam organisasi UDEFEGUA, kepada Al Jazeera.

“Dia telah mengumumkan akan melakukan pengusiran. Dia mengatakan dia tidak akan memiliki toleransi terhadap pengunjuk rasa. Dia telah menyatakan bahwa dia tidak akan memiliki toleransi terhadap ekspresi gender dan identitas LGBT. Dan dia mengatakan akan menggunakan segala cara melawan geng,” imbuh Claudia.

Berdasar rekam jejaknya, selama masa jabatannya sebagai direktur sistem penjara di Guatemala, terlibat skandal pembunuhan di luar proses hukum di sebuah penjara. Pada 2010, dia ditangkap setelah diselidiki oleh kantor Jaksa Penuntut Umum Guatemala dan Komisi Internasional Anti Kekebalan yang didukung PBB di Guatemala. Tapi, dia dibebaskan setelah 10 bulan dalam penahanan sebelum sidang. Hanya saja, Giammattei membantah melakukan kesalahan dan dibebaskan dari semua tuduhan.

Terlepas dari itu, tingkat partisipasi warga Guatemala dalam pemungutan suara pada Minggu (11/8) terbilang rendah. Menurut Mahkamah Pemilihan Umum, hanya sekitar 40 persen pemilih terdaftar yang memberikan suara, jauh lebih rendah dari yang mereka prediksi. Kurangnya partisipasi mencerminkan adanya ketidakpercayaan rakyat Guatemala terhadap proses pemilihan presiden.

Editor : Edy Pramana

Close Ads