alexametrics

Robot Rumah Sakit Sampaikan Vonis Mati, Keluarga Pasien Geram

12 Maret 2019, 15:08:18 WIB

JawaPos.com – Pro dan kontra ihwal masa depan robot bakal menggantikan pekerjaan manusia terus berlanjut. Kali ini, robot yang ditugaskan di rumah sakit menggantikan tugas seorang dokter dengan menyampaikan vonis mati ke pasien dan membuat keluarga geram.

Sebagaimana JawaPos.com kutip dari USA Today, Selasa (12/3), peristiwa tersebut berlangsung di Kaiser Permanente Medical Center di Fremont, California, Amerika Serikat (AS) pada 3 Maret lalu. Vonis mati lewat sebuah robot diterima seorang pasien berusia 78 tahun bernama Ernest Quintana.

Teknologi robot di rumah sakit sendiri memang banyak dijumpai saat ini. Robot tersebut bahkan ada yang bertindak menangangi pasien atau dikenal dengan istilah Telemedis.

robot, robot rumah sakit
Robot di rumah sakit Kaiser Permanente Medical Center di Fremont, California, Amerika Serikat (AS) jatuhkan vonis mati terhadap pasien penyakit paru-paru berusia 78 tahun yang membuat keluarga geram. (USAToday)

Namun cara tersebut agaknya belum bisa diterima banyak kalangan. Keluarga pasien Ernest Quintana mengaku marah terhadap pihak rumah sakit atas perlakuan yang diterimanya. Menerima vonis mati dari robot, bukan dari dokter sebagaimana mestinya.

Lalu ke mana dokter? Sang dokter ada di dalam layar yang bertindak pula sebagai kepala robot. Dokter melakukan vonis lewat video streaming yang ditampilkan di kepala robot tersebut. Robot tak beroperasi sendiri, ada perawat yang mengawalnya hingga ke kamar pasien.

Pasien yang divonis mati disebut tidak bisa bertahan hidup lama lagi atas penyakit paru-paru yang dideritanya. Yang membuat keluarga pasien marah lantaran pihak rumah sakit dan dokter disebut tidak memiliki empati sama sekali. Diwakili sang anak, Catherine Quintana mengaku teramat marah atas cara yang ditunjukkan sang dokter kepada ayahnya.

“Jika Anda datang untuk memberi tahu kami berita yang normal, itu baik-baik saja. Tetapi jika Anda datang untuk memberi tahu kami kondisi paru-paru yang memburuk dan ayah kami dikabarkan tidak akan hidup lebih lama lagi, rasanya kami ingin memberi Anda morfin sampai Anda mati. Itu harus dilakukan oleh seorang manusia dan bukan mesin,” katanya geram.

Sementara itu, pihak rumah sakit mengaku sangat menyesal atas kejadian tersebut. Menurut Michelle Gaskill-Hames, wakil presiden senior dari Kaiser Permanente Greater Southern Alameda County, video tele-visit malam itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan dokter sebelumnya.

“Itu tidak menggantikan percakapan sebelumnya dengan pasien dan anggota keluarga dan tidak digunakan dalam pengiriman diagnosis awal,” kata pihak rumah sakit berdalih.

Ernest Quintana dinyatakan meninggal pada Selasa (5/3) pekan lalu. Cucunya, Annalisia Wilharm, mengatakan kepada USA Today dalam pesan tertulis. Menurutnya, respons rumah sakit tidak atas permintaan maafnya tidaklah cukup. “Permintaan maaf yang mereka berikan tidak cukup baik bagi saya sama sekali,” tulisnya.

Dalam sebuah wawancara dengan KTVU, keluarga itu menyatakan kecewa bahwa mesin robot itu tidak bisa berbicara dengan Quintana dengan cara yang baik.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Rian Alfianto



Close Ads
Robot Rumah Sakit Sampaikan Vonis Mati, Keluarga Pasien Geram