alexametrics

Etnis Kazakh Ramai-ramai Tinggalkan Kamp Deradikalisasi Tiongkok

12 Januari 2019, 06:05:37 WIB

JawaPos.com – Selain Muslim Uighur, Tiongkok kabarnya memaksa etnis Kazakh menjalani deradikalisasi di kamp-kamp yang oleh Beijing disebut sebagai lembaga keterampilan atau sekolah kejuruan. Kabar itu sempat membuat hubungan Tiongkok dan tetangganya, Kazakhstan, tegang. Namun, tensi tersebut menurun kemarin (9/1).

Tiongkok mengizinkan lebih dari 2.000 penduduk Xinjiang keturunan Kazakh meninggalkan Negeri Panda. ”Mereka mengizinkan orang-orang itu menanggalkan status mereka sebagai warga negara Tiongkok,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Kazakhstan sebagaimana dilansir Associated Press.

Beijing boleh saja mengundang media dari berbagai belahan dunia dan menjamu diplomat negara-negara Asia dalam upaya meluruskan rumor negatif tentang kamp deradikalisasi Xinjiang. Namun, di Kazakhstan, kamp deradikalisasi adalah isu sensitif. Rakyat Kazakhstan percaya, para penghuni kamp itu adalah tahanan. Mereka juga dibawa ke kamp tersebut secara paksa. Bukan sukarela.

kazakh, Kazakhstan, kamp deradikalisasi, tiongkok,
Selain Muslim Uighur, Tiongkok kabarnya memaksa etnis Kazakh menjalani deradikalisasi di kamp-kamp yang oleh Beijing (Mvslim)

Rumor itu membuat hubungan dua negara yang bermitra dalam perdagangan tersebut memburuk. Desember lalu Tiongkok sepakat untuk melepaskan 2.000 orang beretnis Kazakh. Tidak jelas apakah mereka adalah para penghuni kamp deradikalisasi atau bukan.

Sebab, di Xinjiang ada begitu banyak warga keturunan Kazakh. Begitu sampai Kazakhstan, sekitar 2.000 orang itu boleh mengajukan permohonan untuk menjadi warga negara.

Tahun lalu pemerintahan Presiden Xi Jinping merazia warga Xinjiang. Khususnya mereka yang Muslim. Beijing yakin, Muslim Xinjiang terpapar radikalisme. Karena itu, mereka harus dikembalikan ke jalan yang benar. Maka, dibangunlah kamp-kamp deradikalisasi tersebut. Menurut BBC, kamp-kamp itu dibangun mulai Mei.

Ada ratusan ribu, bahkan mungkin sampai 1 juta orang, yang segera menjadi penghuni kamp. Rata-rata mereka adalah pemuda dan pria dewasa. Di kamp, mereka menjalani deradikalisasi. Mereka diajari banyak hal untuk menghalau paham radikal itu. Versi Beijing, jika dibiarkan, para pemuda dan pria dewasa tersebut akan menjadi teroris.

Kamp-kamp deradikalisasi yang kontroversial itu menjadi satu-satunya upaya riil Tiongkok untuk memerangi terorisme. Celakanya, para penghuni kamp tersebut didatangkan secara paksa. Rata-rata dengan tuduhan tidak benar bahwa mereka adalah teroris.

Gene Bunin, aktivis pembela kaum minoritas Kazakh di Xinjiang, menyambut baik izin yang diberikan Tiongkok kepada sekitar 2.000 orang untuk pulang ke Kazakhstan. ”Ini upaya dua negara untuk meredam gejolak,” ujarnya.

Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah warga keturunan Kazakh yang boleh meninggalkan Tiongkok berlipat ganda. Tahun lalu hanya 20 orang yang diizinkan pulang ke Kazakhstan. Mereka adalah warga negara Kazahkstan atau keluarga dekat mereka yang tinggal di Xinjiang.

”Saya ingin membawa seluruh keluarga saya ke Kazakhstan. Di sini mereka semua ketakutan,” ujar Adilgazy Yergazy, etnis Kazakh yang adiknya menjadi tahanan di kamp deradikalisasi. Sang adik sudah bebas pada 24 Desember. Tapi, sejauh ini masih tertahan di Xinjiang. Dia berharap sang adik ikut rombongan etnis Kazakh yang pulang ke Kazakhstan dalam waktu dekat ini.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (bil/c10/hep)



Close Ads
Etnis Kazakh Ramai-ramai Tinggalkan Kamp Deradikalisasi Tiongkok