alexametrics

Aung San Suu Kyi Bela Myanmar di Sidang Mahkamah Internasional

11 Desember 2019, 13:35:56 WIB

JawaPos.com – Kehadiran penasihat negara Myanmar Aung San Suu Kyi di Belanda, Selasa (10/12) menjadi buah bibir seluruh dunia. Penerima Nobel Perdamaian itu langsung datang ke Mahkamah Internasional untuk memimpin tim pembela pemerintah Myanmar. Selama tiga hari, dia bakal menjalani sidang dalam gugatan kejahatan genosida di Negara Bagian Rakhine.

Di ruang sidang, wajah Suu Kyi dingin mendengarkan pembukaan dari jaksa penuntut Aboubaccar Tambadou. Menteri keadilan Gambia itu mewakili negaranya dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menggugat rezim Myanmar. Mereka meminta otoritas menghentikan kekejaman kepada kaum Rohingya.

’’Boleh dibilang ini adalah perselisihan antara Gambia dan Myanmar. Kami meminta Myanmar menghentikan genosida yang terjadi,’’ tuturnya sebagaimana yang dilansir Agence France-Presse.

Saat ini citra Myanmar di mata publik internasional tercemar akibat isu Rohingya. Sebanyak 740 ribu jiwa melarikan diri ke Bangladesh sejak penindasan tentara Myanmar mulai 2017. Penyelidik PBB sudah memastikan bahwa operasi militer Myanmar juga diikuti dengan pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan secara masal. ’’Anak-anak dibakar hidup-hidup bersama rumah mereka,’’ ungkap Tambadou.

Kuasa hukum Gambia menyebut beberapa kasus miris mengenai korban Rohingya. Misalnya, kasus perempuan yang menyaksikan anak kandungnya yang masih berusia setahun dipukuli hingga mati. Atau, perempuan hamil delapan bulan yang diinjak-injak, lalu diperkosa berkali-kali.

Suu Kyi yang mengenakan baju tradisional Burma masih saja bungkam. Sejak tiba di bandara, dia memang tidak mengucap satu kata pun. Dia, rupanya, sabar menunggu waktu pembelaan Myanmar yang dijadwalkan pada Rabu (11/12).

DUKUNGAN PENUH: Pendukung Suu Kyi berpawai di Yangon, Myanmar, Selasa (10/12) (Thein Zaw/AP)

Di depan gedung mahkamah, 50 orang pro-Rohingya pun berkumpul untuk menyambut musuh mereka. ’’Hari ini adalah awal perjuangan kami memperoleh keadilan. Keadilan bagi Rohingya,’’ ucap Mohammed Harun. Warga London itu sengaja datang untuk menunjukkan solidaritas kepada Rohingya.

Sekelompok warga Myanmar hadir mendukung Suu Kyi. Mereka merasa bahwa perempuan 74 tahun tersebut merupakan sosok yang bisa memecahkan masalah itu. ’’Memang, rakyat Rohingya. Tapi, tak ada genosida di Myanmar,’’ kata Swe Swe Aye.

Reed Brody, komisioner di International Commission of Jurists, menyatakan bahwa keputusan Suu Kyi untuk masuk tim pembela cukup kontroversial. Selama ini petinggi politik sebuah negara bakal menghindar dari posisi perwakilan di Mahkamah Internasional.

’’Secara hukum, kehadiran Suu Kyi akan dianggap upaya politisasi. Hakim yang terbiasa dengan protokol diplomatik jelas tak bakal terkesan dengan tim yang ada,’’ jelasnya kepada Al Jazeera.

Pengamat menyebut beberapa alasan Suu Kyi mengambil keputusan tersebut. Menurut analis politik Maung Maung Soe, langkah pemerintah untuk mempertahankan rezim militer boleh jadi adalah upaya merebut hati Presiden Win Myint. Dengan begitu, rencana perubahan undang-undang dasar yang selama ini promiliter bisa kembali maju. ’’Negosiasi antara pemerintah dan militer akan bertambah,’’ ungkapnya.

Sementara itu, beberapa memprediksi aksi Suu Kyi merupakan kampanye untuk pemilu nasional tahun depan. Pejabat Partai USDP Khin Yi menuturkan bahwa partai National League for Democracy (NLD) milik Suu Kyi bakal mendapat simpati dari rakyat. Sebab, membela negara di tingkat internasional bisa dibilang merupakan aksi patriot.

Strategi istri mendiang Michael Aris itu berhasil. Pada Minggu (8/12), 700 orang beraksi di Yangon untuk menunjukkan dukungan kepada Suu Kyi. Sebagian besar memegang poster bertulisan ’’Kami Bersamamu Mother Suu’’.

Memang penghargaan itu juga sepadan dengan risiko. Makin dia populer di tingkat nasional, makin jelek pula citranya di tingkat internasional. Dulu perempuan yang disebut The Lady tersebut pernah disandingkan dengan Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela atas kinerjanya memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). ’’Kalau dia terus berusaha membela yang bersalah, masalah akan makin buntu,’’ tutur analis David Mathieson.

AUNG SAN SUU KYI YANG DI AMBANG KEJATUHAN
19 September 2018: Suu Kyi mengakui, ada aksi kekerasan yang mengakibatkan 500 ribu muslim di Rohingya melarikan diri. Namun, dia menolak menyalahkan siapa pun.

13 September 2018: Suu Kyi membela keputusan pengadilan yang memenjarakan dua jurnalis Reuters yang sedang menyelidiki kekejaman pemerintah di Negara Bagian Rakhine.

2 Oktober 2018: Status warga negara terhormat Kanada Suu Kyi dicabut.

12 November 2018: Amnesty International menarik gelar Ambassador of Conscience Award dari Suu Kyi.

10 Desember 2019: Menjadi perwakilan pemerintah Myanmar dalam kasus Rohingya di Pengadilan Internasional Den Haag.

Sumber: Agence France-Presse

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c14/dos)


Close Ads