alexametrics

Unjuk Rasa Makin Masif, Presiden Bolivia Umumkan Pengunduran Diri

11 November 2019, 14:36:54 WIB

JawaPos.com – Presiden Bolivia, Evo Morales, memutuskan untuk mundur dari jabatannya setelah unjuk rasa yang memprotes hasil pemilu pada bulan lalu semakin masif. Morales mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu (10/11) malam waktu setempat atau Senin (11/11) WIB.

Seperti diketahui, kemenangan Morales dalam pemilu bulan lalu mendapat protes keras dan disengketakan. Pada akhirnya, pemantau internasional meminta hasil pemilu tersebut dibatalkan. Hal itu setelah adanya temuan manipulasi dalam pemilu yang digelar pada 20 Oktober lalu.

Pengunduran diri Morales tak lepas juga dari desakan politikus dan pimpinan militer serta kepolisian. Awalnya, Morales sependapat dengan temuan pemantau internasional dan setuju untuk menggelar pemilu ulang. Pemilu ulang akan dilakukan usai Morales terlebih dahulu mengganti badan Pemilu Bolivia.

Morales pada akhirnya melunak. Dia masih memiliki hati nurani setelah melihat demonstrasi yang masif. Apalagi, beberapa rekan politiknya banyak yang mendapat cercaan dari warga. Seperti dilansir dari BBC, lewat sebuah pidato yang ditayangkan di televisi, Morales mengatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden. Dia pun berharap dengan keputusannya tersebut aksi unjuk rasa bisa mereda.

Baca juga: Patricia Arce, Wali Kota yang Dipermalukan Demonstran

“Tolong hentikan serangan saudara-saudari. Hentikan pembakaran dan menyerang,” sebut Morales seperti dilansir BBC.

Tak hanya Morales yang memilih mundur. Wakil Presiden Alvaro Garcia Linera dan Senator Adriana Salvatierra juga mengundurkan diri.

Putusan Morales tersebut disambut gembira rakyat Bolivia yang memang tak mengakui hasil pemilu pada bulan lalu. Morales dinilai sebagai pemimpin yang tidak demokratis. Sementara, pendukung Morales sebaliknya. Putusan mundur Morales disebut sebagai kudeta. Morales adalah pemimpin pribumi pertama yang pernah dimiliki Bolivia. Dia diklaim membuat rakyat Bolivia yang miskin menjadi setara dengan yang lain. Di satu sisi, kelompok yang berseberangan menilai mundurnya Morales adalah akhir dari tirani.

Usai pemilu 20 Oktober lalu, Bolivia dilanda unjuk rasa yang dari hari ke hari semakin panas. Demonstran memprotes hasil pemilu yang dinilai penuh dengan kecurangan. Dilaporkan setidaknya tiga orang tewas dalam sejumlah unjuk rasa. Bahkan, sejumlah polisi yang masih mengenakan seragam turut bergabung bersama demonstran.

Morales terus mendapat tekanan. Sejumlah rekan politiknya dicerca oleh demonstran. Bahkan, beberapa lainnya memilih mundur karena khawatir dengan keselamatan keluarganya. Sampai-sampai, Panglima Militer Jenderal Williams Kaliman, turut mendesak agar Morales mundur dari jabatannya demi menyelamatkan bangsa.

Morales sendiri adalah presiden pertama yang dimiliki Bolivia. Dia menjabat sebagai presiden sejak 2006 silam. Morales tetap mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat secara berturut-turut. Dalam pemilu 20 Oktober lalu, Morales mendapat suara tertinggi. Namun, pemilu itu dianggap kontroversial karena pengadilan telah dipengaruhi untuk membatalkan batas masa jabatan presiden. Pada akhirnya, pemantau internasional menilai ada banyak kecurangan dan menyerukan agar pemilu diulang.

Hanya saja, Morales memilih putusan berbeda. Dia mengambil pilihan yang bisa dibilang cukup tepat yakni mundur dari jabatannya.

Editor : Edy Pramana


Close Ads