JawaPos Radar | Iklan Jitu

Gelombang Panas Ancam Korut Jadi Kelaparan

11 Agustus 2018, 04:05:59 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gelombang panas
JawaPos.com - Gelombang panas yang terjadi di Korea Utara (korut) menyebabkan terancamnya ketahanan pangan (Climate Change Institute)
Share this

JawaPos.com - Gelombang panas yang terjadi di Korea Utara (korut) menyebabkan terancamnya ketahanan pangan. Dilansir Channel News Asia pada Jumat, (10/8), The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) mengatakan, beras, jagung, dan tanaman lainnya telah layu di ladang-ladang Korut.

Jaringan bantuan bencana terbesar di dunia memperingatkan risiko krisis keamanan pangan menyeluruh di negara yang terisolasi tersebut. Di mana kelaparan pada pertengahan 1990-an menewaskan hingga tiga juta orang.

Situasi yang mengkhawatirkan telah diperparah oleh sanksi internasional yang diberlakukan karena program nuklir dan rudal Korut. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di Jenewa, IFRC mengatakan, tidak ada hujan sejak awal Juli ketika suhu melonjak hingga rata-rata 39 derajat Celcius di seluruh kawasan di Korut.

Gelombang panas
JawaPos.com - Gelombang panas yang terjadi di Korea Utara (korut) menyebabkan terancamnya ketahanan pangan (The Watchers)

Populasi 25 juta orang menjadi stres dan rentan dengan kekurangan gizi. Efek yang parah bisa dirasakan oleh anak-anak yang bisa memperburuk gizi mereka, mengerdilkan pertumbuhan mereka.

"Ini belum digolongkan sebagai kekeringan. Namun beras, jagung, dan tanaman lainnya sudah layu di ladang dengan potensi efek bencana bagi rakyat DPRK," kata Manajer Program IFRC di Pyongyang Joseph Muyamboit.

Menurutnya, hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut hingga menjadi krisis keamanan pangan yang besar. Musim kering yang parah sebelumnya telah mengganggu pasokan makanan ke titik di mana menyebabkan masalah kesehatan yang serius dan malnutrisi di seluruh negeri.

Korut menyebut pekan lalu warganya berjuang habis-habisan menghadapi suhu yang mengancam panen. Mengacu pada bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kekeringan dan banjir telah menjadi ancaman musiman di Korea Utara, yang tidak memiliki sistem irigasi dan infrastruktur lain untuk menangkal bencana alam.

Di Seoul Kementerian Unifikasi mengatakan, pihaknya tidak memiliki informasi spesifik mengenai situasi di utara. Namun Palang Merah telah memberi tahu mereka tentang gelombang panas pekan lalu.

IFRC membantu Palang Merah nasional untuk mendukung 13.700 orang paling rentan yang berisiko di Provinsi Hamgyong Selatan dan Pyongan Selatan. Mereka mengerahkan tim tanggap darurat dan 20 pompa air untuk mengairi ladang di daerah yang paling parah terkena dampaknya.

Kepala World Food Programme PBB David Beasley mengunjungi Korut pada bulan Mei untuk mencari cara meningkatkan distribusi makanan bagi perempuan dan anak-anak yang kelaparan. Sekitar 70 persen warga Korut dilanda ketidakamanan pangan.

Artinya mereka berjuang untuk menghindari kelaparan. Satu dari empat anak di bawah lima tahun terhambat dari kekurangan gizi kronis. Kekeringan tahun 2015 memperburuk situasi.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up