JawaPos Radar

Dua Mahasiswa Indonesia yang Ditahan di Mesir Bakal Dideportasi

11/08/2017, 22:49 WIB | Editor: Ilham Safutra
Dua Mahasiswa Indonesia yang Ditahan di Mesir Bakal Dideportasi
Muharnis dan Elvis orang tua Muhammad Hadi, mahasiswa Universitas Al Azhar asal Sumbar yang ditahan di Mesir.Orang tua Nurul Islami menunjukkan anaknya yang ditahan di Mesir. (Fajar R Veski/Padang Ekspres/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir tengah mengupayakan untuk membebaskan dua orang mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, Mesir asal Indonesia.

Kedua mahasiswa tersebut sejak 1 Agustus lalu ditahan oleh otoritas keamanan Mesir, karena memasuki daerah terlarang bagi orang asing yakni Samanud.

Dubes Indonesia di Kairo Helmy Fauzi mengaku, saat ini pihaknya telah mendapat konfirmasi informal bahwa kedua mahasiswa tersebut ditahan di Kantor Kepolisian Kota Aga.

Dua Mahasiswa Indonesia yang Ditahan di Mesir Bakal Dideportasi
orang tua Nurul Islami, mahasiswa Indonesia yang ditahan di Mesir. (Fajar R Veski/Padang Ekspres/JawaPos.com)

Hal ini terus dikomunikasikan dengan pihak Kemenlu, Dinas Keamanan, dan aparat kemanaan Mesir. ”Kami juga mengirim lawyer (pengacara) untuk membebaskan mereka,” ucap Helmy seperti dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Jumat (11/8).

Adapun kedua mahasiswa tersebut bernama Nurul Islami dan Muhammad Hadi. Kedua sama-sama berasal dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar). Saat ini mereka kuliah di Universitas Al Azhar sudah di semester akhir.

Sementara dalam upaya pembebasan, sebut Helmy, besar kemungkinan kedua mahasiswa itu akan dideportasi. Dia mengatakan, sebelumnya KBRI telah mengeluarkan imbauan agar seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan Samanud dan tidak lagi mondok, mengaji dan belajar ilmu agama dengan para ulama yang tidak berafiliasi dengan Al Azhar atau berseberangan dengan pemerintah Mesir.

Terkait kenapa bisa dua orang mahasiswa itu ditahan, karena mereka tengah berupaya mengambil sejumlah barang-barang milik yang tertinggal di Samanud. Sementara KBRI, kata Helmy telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi pengambilan barang-barang milik mahasiswa Indonesia yang masih tertinggal di Samanud.

Namun, para mahasiswa Indonesia tersebut menolak bantuan dan mengatakan bisa mengambil sendiri barang mereka yang tertinggal di sejumlah pemondokan di Samanud.

Helmy menjelaskan, umumnya madrasah tempat pengkajian agama di Samanud dipimpin dan diasuh oleh para sheikh atau ulama yang tidak berafiliasi dengan Al Azhar, dan bahkan dinilai berseberangan dengan pemerintah Mesir.

“Grand Sheikh Al Azhar sendiri telah mengimbau agar para mahasiswa yang selayaknya harus menimba ilmu di Al-Azhar dengan para ulama Al Azhar untuk meninggalkan Samanud dan tidak belajar ilmu agama dengan ulama non-Al Azhar di sejumlah madrasah di daerah tersebut,” jelas Helmy.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up