alexametrics

Australia Bakal Deportasi Anak Penyandang Autisme asal Indonesia

Sang Ibu Mantan Dosen Unibraw
11 Juli 2019, 10:41:29 WIB

JawaPos.com – Dukungan buat Dimas Triwibowo dan keluarga agar tak dideportasi dari Australia terus mengalir. Sampai pukul 22.00 WIB tadi malam, sudah ada 32.212 penanda tangan petisi online di change.org.

Petisi itu dibuat Cameron Gordon, mantan penyelia doktoral Yuli Rindyawati, ibunda Dimas, di University of Canberra (UC), Australia, sebulan lalu. Dimas, 14 tahun, merupakan anak bungsu di antara tiga bersaudara pasangan Yuli dan Heri Prayitno.

Yuli memang terus berharap dirinya dan keluarga yang telah sepuluh tahun tinggal di Canberra bisa mendapatkan status permanent resident di Australia. Yuli yang kala meninggalkan Indonesia berstatus dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, tak bisa menyerah. Sebab, kembali ke Indonesia bukanlah pilihan yang ingin dijalani, terutama bagi Dimas yang tengah menjalani terapi.

Dilansir The Canberra Times, Yuli mengajukan permohonan visa permanen melalui jalur graduate skilled sejak empat tahun lalu. Salah satu syarat pengajuannya adalah tes kesehatan.

Yuli, Heri, dan dua anaknya yang bernama Adela Ramadhina, 21, serta Ferdy Dwiantoro, 17, lolos tes. Tapi, tidak demikian anak terakhirnya, Dimas. “Dimas, anak saya yang paling kecil, dinyatakan tidak lolos karena kondisi autis,” ujar Yuli seperti dikutip SBS.

Petugas menyatakan bahwa kondisi autis tersebut bakal berdampak pada biaya yang signifikan terhadap komunitas Australia. Terutama di bidang kesehatan dan pelayanan publik.

Yuli tak terima. Dia mengajukan banding ke Pengadilan Banding Administratif atau Administrative Appeals Tribunal (AAT). Dia diminta menyerahkan dokumen-dokumen yang terkait dengan kemajuan Dimas. Termasuk laporan dari sekolah dan terapis. Tapi, sekali lagi, permohonan mereka ditolak. Kini keluarga Yuli menunggu keputusan dari Menteri Imigrasi David Coleman.

Dalam keterangan di akun Facebook pribadinya, Yuli masih menulis diri sebagai dosen FIA UB. Upaya Jawa Pos mengontak Yuli melalui Facebook tak berbalas sampai berita ini selesai ditulis. Begitu pula kontak melalui layanan pesan pendek (SMS) di nomor telepon.

Sepuluh tahun lalu, ketika menjalani tugas belajar untuk menempuh pendidikan doktoral bidang filosofi ekonomi di UC, Yuli membawa serta suami dan anak-anaknya. Saat itu usia Dimas masih 3 tahun dan Yuli serta suami tidak tahu putra bungsunya itu menderita autis.

Kelainan Dimas baru terdeteksi saat dia berusia 5 tahun. Tepatnya ketika Yuli mendaftarkannya untuk sekolah. Dimas akhirnya masuk ke Malkara (Special) School, sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Sejak bersekolah, kemajuan Dimas meningkat drastis. Dia awalnya sulit bicara. Tapi, kini dia mampu memahami dan bicara dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Dimas bisa naik sepeda angin, naik bus sendiri, dan tidak pernah tantrum. Dia menjalani terapi dua pekan sekali. Kondisinya membaik dari severe ke moderate.

Yuli bekerja sebagai tutor paro waktu di UC dan manajer di toko Asian Provision. Sang suami selama sepuluh tahun ini menjadi petugas kebersihan di QT Hotel. Ferdy bersekolah di Lake Tuggeranong College dan Adela berkuliah jurusan IT di UC. Perempuan 21 tahun itu juga bekerja paro waktu.

Keluarga Yuli juga selalu membayar pajak kepada pemerintah Australia. “Kami merasa sangat dekat dengan komunitas di sini. Bukan hanya komunitas orang Indonesia (di Australia, Red),” ujar Yuli kepada Canberra Times.

Yuli mengungkapkan bahwa selama ini pengobatan Dimas tak pernah menggunakan uang negara. Mereka memakai asuransi pribadi. Penasaran, Yuli mencari tahu berapa besaran nominal yang akan diberikan negara jika Dimas menjadi permanent resident.

“Oleh Centrelink dihitung estimasi biayanya dan ternyata anak saya itu hanya mendapatkan bantuan kurang lebih 50 dolar per minggu,” ujarnya. Itu setara dengan kurang lebih Rp 490 ribu.

Besaran uang tersebut dinilai tidak signifikan dan seharusnya tak menghambat Dimas untuk menjadi permanent resident di Australia. Yuli yakin putranya tidak akan menjadi beban negara. Dimas bahkan sudah mendapatkan tawaran untuk kerja jika lulus dari kelas X pada 2021. Dimas kini berusia 14 tahun dan duduk di kelas IX Woden School.

Ketika dikonfirmasi, Humas FIA UB Aulia Luqman Aziz menyatakan bahwa Yuli meninggalkan Indonesia untuk tugas belajar sejak 2009. Sementara teman-teman Yuli yang juga ikut tugas belajar sudah kembali. “Update dari wakil dekan bidang administrasi umum FIA, SK pemberhentian dari Kemenristekdikti sudah sejak tahun 2016,” ungkap dia.

Artinya, Yuli bukan lagi dosen di FIA UB. Jadi, kata Luqman, ibu tiga anak itu sudah tidak memiliki sangkut paut dengan UB.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum mengambil sikap atas masalah imigrasi keluarga Dimas. Plt Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah menerangkan, pihaknya menghormati ketentuan imigrasi suatu negara. Begitu juga warga negara asing yang harus menaati ketentuan imigrasi Indonesia. Maka, lanjut Faizasyah, tidak etis rasanya jika ikut terlibat lebih dalam.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (sha/lyn/han/c9/ttg)



Close Ads