JawaPos Radar

Raja Salman dan MBS Disebut Bertanggung Jawab atas Perang Yaman

10/09/2018, 18:00 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Raja Salman
Seorang pangeran Saudi senior menyalahkan Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad Bin Salman atas perang yang terjadi di Yaman menurut laporan oleh Middle East Eye (MEE) lewat Al Jazeera pada Senin, (10/9) (Al Jazeera)
Share this image

JawaPos.com - Seorang pangeran Saudi senior menyalahkan Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad Bin Salman atas perang yang terjadi di Yaman menurut laporan oleh Middle East Eye (MEE) lewat Al Jazeera pada Senin, (10/9). Seorang sumber yang tidak disebutkan namanya yang dekat dengan Pangeran Ahmed bin Abdulaziz mengatakan, saudara raja Saudi mungkin tidak kembali ke Arab Saudi setelah video dari komentarnya diunggah online pekan lalu.

Dalam video tersebut, Pangeran Ahmed, salah satu dari beberapa putra yang tersisa dari pendiri kerajaan itu mengatakan, para pengunjuk rasa antiperang berkumpul di luar kediamannya di London. Seluruh keluarga tidak boleh disalahkan atas perang di Yaman. "Ada orang-orang tertentu yang bertanggung jawab. Jangan salahkan seluruh keluarga," kata Pangeran Ahmed
.
Ditanya siapa orang-orang yang bertanggung jawab tersebut, sang pangeran mengatakan itu adalah raja dan pewarisnya. "Di Yaman dan di tempat lain, harapan kami adalah bahwa perang berakhir hari ini sebelum besok," tambahnya. Video itu beredar luas secara online dan memicu spekulasi marah tentang kemungkinan perselisihan dalam keluarga kerajaan Saudi.

Agen Saudi Press Agency mengeluarkan pernyataan yang dikaitkan dengan Pangeran Ahmed tidak lama setelah video itu diterbitkan, yang mengatakan bahwa penafsiran komentarnya tidak akurat. "Saya telah menegaskan bahwa raja dan putra mahkota bertanggung jawab atas negara dan keputusannya," kata pangeran dalam pernyataan itu.

raja salman
Putra Mahkota Muhammad Bin Salman disalahkan atas Perang Yaman (Reuters)

"Ini benar untuk keamanan dan stabilitas negara dan rakyat. Oleh karena itu, tidak mungkin menafsirkan apa yang saya katakan dengan cara lain," ujarnya.

Namun, MEE mengatakan, sumbernya mengklaim Pangeran Ahmed tidak mengakui pernyataan tersebut. "Dia mengatakan laporan oleh SPA yang dikontrol negara itu palsu dan bahwa kata-kata yang dikutip oleh agensi itu bukan miliknya," lapor MEE.

Perbedaan pendapat jarang terjadi di kerajaan. Biasanya para kritikus Raja Saudi menghadapi hukuman penjara yang panjang, hukuman fisik, dan denda besar. Puluhan anggota keluarga kerajaan, menteri dan pengusaha top ditangkap pada bulan November 2017 selama pembersihan antikorupsi yang diluncurkan oleh MBS. Tuduhan terhadap mereka yang ditahan termasuk pencucian uang, penyuapan, dan pemerasan.

Tindakan keras yang datang melalui dekrit kerajaan disebut sebagai tanggapan atas eksploitasi oleh orang yang telah menempatkan kepentingan mereka sendiri di atas kepentingan publik, untuk mendapatkan uang secara tidak sah. Sebagian besar dibebaskan setelah mencapai kesepakatan dengan pemerintah, termasuk pengusaha Saudi dan miliarder Pangeran Alwaleed Bin Talal.

Para pengamat mengatakan, penangkapan itu adalah cara bagi putra mahkota untuk mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi dan politik di Arab Saudi. Pangeran Ahmed sebelumnya menjabat sebagai menteri dalam negeri pada tahun 2012 di bawah almarhum Raja Abdullah sebelum ia digantikan oleh Pangeran Mohammed Bin Nayef.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up