JawaPos Radar | Iklan Jitu

Diskriminasi Perempuan, Jepang Selidiki Sekolah Kedokteran

10 Agustus 2018, 17:10:59 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Jepang Selidiki Sekolah Kedokteran
Jepang telah meluncurkan penyelidikan terhadap diskriminasi gender di seluruh universitas kedokteran di Tokyo (Asia One)
Share this

JawaPos.com - Belakangan ini diketahui bahwa para calon dokter perempuan perlahan-lahan mulai tersingkirkan. Terungkap pihak universitas memanipulasi nilai mereka dan mendiskiminasi gender.

Jepang telah meluncurkan penyelidikan terhadap diskriminasi gender di seluruh universitas kedokteran di Tokyo. Hal itu bermula setelah sekolah kedokteran Tokyo mengakui telah mengubah hasil tes masuk para calon siswa kedokteran perempuan.

Kementerian Pendidikan Jepang telah meminta semua sekolah kedokteran swasta dan publik untuk memeriksa prosedur penerimaan mereka untuk kemungkinan diskriminasi terhadap para calon pelajar perempuan. Selain itu, pihak berwenang juga mengatakan, mereka juga akan memeriksa rasio gender para calon siswa yang berhasil selama enam bulan terakhir.

Hal itu nantinya akan membenarkan bahwa ini adalah investigasi nasional pertama yang pernah dilakukan di Jepang khususnya di bidang pendidikan.

"Jika jawaban mereka dinilai tidak masuk akal, kami akan mengajukan pertanyaan tambahan atau mengunjungi mereka secara langsung," kata seorang pejabat kementerian seperti dilansir Channel News Asia pada Jumat (10/8).

Ia juga menambahkan bahwa hasil penyelidikan akan dipublikasikan paling cepat bulan depan. Penyelidikan itu dilakukan setelah sekolah kedokteran Tokyo mengakui itu secara rutin mengubah skor hasil ujian masuk para calon siswa perempuan.

Kecurangan itu otomatis membuat para calon siswa perempuan gagal untuk masuk kedokteran. Tentunya juga telah memicu kemarahan di Jepang. Proses manipulasi nilai bagi para calon siswa perempuan dilaporkan sudah dilakukan sejak 2006 lalu.

Menteri Pendidikan Yoshimasa lantas turut menyesalkan kecurangan tersebut. Dia mendesak sekolah-sekolah kedokteran untuk bekerja sama dengan para penyidik.

Di Jepang dunia kerja memiliki jam kerja yang panjang dan didominasi kaum laki-laki, tak sedikit perempuan yang sudah menikah kemudian meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga saja.

Sumber mengatakan kepada media setempat, diskriminasi terjadi karena perempuan tidak akan menjadi dokter yang dapat diandalkan setelah lulus karena mereka sering berhenti kerja untuk menikah dan memulai sebuah keluarga.

"Tidak peduli apa situasinya, perempuan tidak boleh didiskriminasikan secara tidak adil," Jiji Press mengutip pernyataan Menteri Kehakiman Yoko Kamikawa.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up