alexametrics

Mahasiswa Australia Dibebaskan Korut, Ada Campur Tangan Swedia

10 Juli 2019, 20:47:58 WIB

JawaPos.com – Mahasiswa asal Australia, Alek Sigley, bisa dikatakan beruntung pada akhirnya dibebaskan oleh pemerintah Korea Utara setelah ditahan. Seperti yang dikabarkan oleh kantor berita resmi Korea Utara (Korut), KCNA (Korean Central News Agency), Sigley yang tengah menimba ilmu di Korut itu dinilai memata-matai kegiatan pemerintah Korut. Dia juga dinilai menyebarkan propaganda anti-Pyongyang.

Cara kerja Sigley disebut KCNA dengan memberikan foto-foto dan bahan-bahan lainnya ke kantor-kantor berita lain dan bertujuan mengkritisi kebijakan Korea Utara. KCNA juga mengatakan setelah Sigley dibebaskan, pemerintah Korut langsung mendeportasinya pada Kamis (4/7).

Seperti diketahui, Sigley yang sempat dinyatakan hilang ternyata ditangkap oleh tim khusus Korut yang dijuluki “tangan merah” pada 25 Juni lalu dan langsung ditahan. Sepekan kemudian, Sigley dibebaskan.

Hanya saja, dalam proses pembebasannya, Australia butuh bantuan dari Swedia. Hal ini cukup menarik. Begitu Sigley dinyatakan hilang dan diketahui ditahan oleh pemerintah Korut, Australia berpaling ke negara yang jaraknya lebih dari 15.000 km untuk mendapatkan bantuan.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Australia tak memiliki kedutaan di Korut. Sementara itu, Negara Skandinavia Swedia, menjadi satu dari sedikit negara Barat yang memiliki kedutaan di Korut. Swedia pun kerap menjadi perantara untuk menyelesaikan konflik sebuah negara dengan Korut.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, sangat berterima kasih kepada Swedia atas bantuannya dalam membebaskan Sigley. Dia menyatakan terima kasihnya yang mendalam kepada pemerintah Swedia atas bantuan yang tak ternilai.

Swedia memang memiliki sejarah panjang bertindak sebagai perantara diplomatik di Korut. Swedia bahkan disebut sebagai “kekuatan yang melindungi” beberapa negara Barat di Korut. Swedia sudah hampir 50 tahun memiliki kedutaan di Korut.

Bahkan, Swedia ternyata menjadi negara Barat pertama yang membangun hubungan diplomatik formal dengan Korut pada 1973. Inggris sendiri baru pertama kali mengirimkan duta besarnya ke Korut pada 2002.

Bagi Swedia, membantu negosiasi dalam pembebasan Sigley atau hal lain bukan pertama kalinya. Swedia memang kerap membantu negara lain yang tengah dihadapkan pada masalah diplomatik yang rumit dengan negara lainnya. Swedia pernah mewakili Inggris di Iran ketika hubungan kedua negara renggang. Itu termasuk pada 1989 ketika pemimpin tertinggi Iran mengeluarkan fatwa yang memerintahkan umat Islam untuk membunuh novelis Salman Rushdie.

Swedia memang dikenal akan tradisi netralitas yang panjang. Pada awal abad ke-19, Swedia mengambil posisi terbaik yakni bebas dari aliansi militer pada masa damai sehingga bisa tetap netral ketika pecah perang. Selama Perang Dingin antara blok komunis timur dan blok kapitalis barat, Swedia berusaha mengambil posisi tetap netral.

Hal yang sama juga dilakukan Swedia terkait konflik semenanjung Korea. Negara tersebut tetap mengambil posisi netral. Pada akhir Perang Korea pada 1953, dibentuklah Komisi Pengawas Negara-negara Netral yang terdiri dari Swedia, Swiss, Polandia, dan Cekoslovakia (sebelum pecah). Pembentukan itu bertujuan untuk mengawasi gencatan senjata yang mengakhiri perang Korea.

Setelah Tirai Besi jatuh, Korea Utara mengusir pengamat Polandia dan Cekoslovakia pada 1990-an. “Tetapi pihak Swiss dan Swedia masih ada di sana (Korut). Ini menyebabkan kedua negara untuk mengambil peran yang lebih besar di Korea daripada yang lain,” ucap Fyodor Tertitskiy, salah seorang pengamat Korea Utara seperti dilansir BBC.

Peran Swedia sebagai perantara dalam hubungan dengan Pyongyang termasuk menangani urusan konsuler untuk Amerika Serikat. “Swedia telah sepakat dengan AS untuk mewakili kepentingan konsuler warga negaranya di Korut,” ucap mantan wakil kepala misi di Kedutaan Besar Swedia di Pyongyang, Martina Aberg Somogyi.

AS seperti halnya Australia tidak memiliki kedutaan atau konsulat di Korea Utara. Berdasar itu, Swedia bertindak sebagai yang dikenal dalam bahasa diplomatik yakni “kekuatan perlindungan”. Perlu diketahui, jelang pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura pada 2018, menteri luar negeri Korut bahkan terbang ke Swedia untuk mengadakan pembicaraan.

Swedia juga sering membantu pembebasan warga AS yang ditahan Korut. Kasus paling terkenal baru-baru ini adalah mahasiswa AS, Otto Warmbier, yang dipenjara di Korut pada 2016 setelah dituduh mencuri simbol propaganda. Dia menghabiskan 17 bulan di tahanan dan kemudian meninggal dunia beberapa hari setelah kembali ke AS dalam keadaan koma.

Peran Swedia di Korut tidak terbatas pada membantu orang Barat yang tengah dalam kesulitan. Swedia juga melakukan fungsi-fungsi lain seperti menangani bantuan kemanusiaan Swedia ke Korut dan mengeluarkan visa untuk warga Korut yang akan bepergian ke wilayah Eropa.

Saat ini ada dua diplomat Swedia yang bekerja penuh waktu di Pyongyang. Salah satunya adalah August Borg. Hanya, saja Borg mengaku bahwa sampai saat ini saling pengertian antara Korut dan Swedia belum sepenuhnya cair. Borg mengatakan bahwa Korut masih terlalu protektif dan cenderung menaruh kecurigaan yang mendalam.

“Bahkan ketika pejabat dari Swedia hanya ingin mengunjungi proyek yang dibiayai Swedia di Korut, persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari,” sebut Borg.

Editor : Edy Pramana



Close Ads