alexametrics

Kehilangan Jari-jari Tangan Saat Lawan Musim Dingin Demi Masuk Kanada

9 Desember 2018, 06:31:57 WIB

JawaPos.com – Seidu Mohammed dan Razak Iyal hampir meninggal pada tahun 2016 saat menyelinap di perbatasan Kanada-AS selama bulan Desember 2017 yang dingin. Mereka berjuang keras untuk mendapatkan suaka.

Dilansir dari BBC beberapa waktu yang lalu, Seidu Mohammed merupakan pemain sepakbola yang berusia 26 tahun. Dia bermain di tim amatir tingkat tinggi di Major Football League Manitoba. Namun karirnya tergelincir ketika ia mengaku sebagai biseksual saat berlatih di Brasil pada tahun 2014.

Dia tidak pernah pulang ke rumah, takut penganiayaan karena seksualitasnya di negaranya. Ia malah memulai perjalanan yang menentukan, yang membawanya sampai ke stasiun bus Minneapolis pada Malam Natal, 2016.

pengungsi, perjuangan pengungsi di musim dingin, kehilangan jari-jari, musim dingin,
Perjuangan para pengungsi di musim dingin semakin keras (Reuters)

Di sana ia bertemu dengan Razak Iyal, 36 tahun, seorang warga Ghana yang melarikan diri dari negara Afrika Barat ketika sengketa keluarga atas tanah ayahnya berubah menjadi kekerasan. Kedua pria itu menghadapi deportasi kembali ke Ghana setelah ditolak status pengungsinya di AS.

Sebaliknya mereka malah melakukan perjalanan penuh risiko menyeberang ke Kanada. Mereka berjuang melewati salju setinggi pinggang demi menyeberangi perbatasan antara Manitoba Selatan dan Minnesota Utara.

Mereka menghabiskan 10 jam di luar, berpakaian sangat buruk untuk menghadapi kondisi musim dingin. Mereka berkeliaran di dekat jalan raya satu yang dikelilingi oleh ladang pertanian.

Tak kuat menghadapi dinginnya perbatasan Kanada-AS, jari-jari tangan mereka terpaksa diamputasi akibat radang dingin yang mereka alami. Untuk mengobatinya, mereka menghabiskan tiga bulan berikutnya di rumah sakit di Winnipeg, Manitoba.

“Kebetulan kami berasal dari kota yang sama, daerah yang sama, komunitas yang sama, tetapi kami tidak pernah bertemu sebelumnya,” kata Seidu, duduk di sofa di apartemen sederhana Iyal di pusat Kota Winnipeg. “Kami seperti saudara, bukan teman.”

Sejak itu, lebih dari 30.000 pencari suaka lainnya mengikuti jejak Seidu dan Iyal, menyeberangi perbatasan secara ilegal sebelum menyerahkan diri kepada pihak berwenang untuk membuat klaim pengungsi.

Sebagian besar menyeberang di Jalan Roxham, jalan pedesaan buntu di New York, melalui  Provinsi Quebec. Jumlah migran telah turun sejak musim panas lalu, meskipun lebih dari 1.600 orang masih menyeberang pada bulan Juli.

Jumlah pencari suaka yang datang lebih dari kira-kira 18 bulan terakhir telah menekan sumber daya pemerintah dan organisasi masyarakat, terutama di Quebec dan Ontario.

Ontario menuntut USD 152 juta dari pemerintah federal untuk menutup biaya terkait. Di Toronto, ribuan orang ditempatkan di tempat penampungan darurat dan sekitar 400 pencari suaka telah ditempatkan sementara di hotel dan motel di dalam dan di sekitar kota.

Seidu menghadiri Parade Pride pertamanya. Ia melihat komunitas LGBT berkumpul bersama. Ia juga menghabiskan beberapa waktu melatih sepakbola anak muda.

Sedangkan Iyal mengambil kelas bisnis, berharap untuk meluncurkan bisnis elektronik, seperti yang dia miliki di Ghana, dan mempekerjakan pengungsi. Ia berharap suatu hari akan berkumpul kembali dengan istri yang ditinggalkannya. Mereka telah menemukan komunitas teman dekat di Winnipeg, banyak di antaranya juga imigran atau pengungsi.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (ina/JPC)

Kehilangan Jari-jari Tangan Saat Lawan Musim Dingin Demi Masuk Kanada