alexametrics

Pemimpin Hongkong Carrie Lam Tegaskan RUU Ekstradisi Telah Mati

9 Juli 2019, 16:41:51 WIB

JawaPos.com – Pemimpin Hongkong, Carrie Lam, merespons maraknya unjuk rasa yang menuntut pencabutan secara penuh RUU Ekstradisi. Bahkan, teranyar, pada Minggu (7/7), unjuk rasa berakhir anarkis. Massa bentrok dengan polisi yang mengakibatkan lima orang ditangkap. Terkait bentrokan, versi berbeda disampaikan oleh polisi dan demonstran.

Versi polisi, demonstran diminta bubar, tetapi malah melakukan penyerangan. Beberapa jam sebelumnya, satu orang juga ditangkap karena tidak bisa menunjukkan identitas saat dihentikan polisi. Versi para demonstran berbeda. Mereka hendak pulang dari aksi damai di Distrik Tsim Sha Tsui. Di area Mong Kok, mereka bertemu dengan polisi yang sudah menghadang. Massa dilarang lewat.

Massa pengunjuk rasa menegaskan tak akan berhenti hingga tuntutan dipenuhi. Paling utama adalah RUU Ekstradisi dicabut sepenuhnya.

Kondisi itu membuat Lam akhirnya memberikan respons. Dalam pernyataan terbukanya, pemimpin Hongkong tersebut menegaskan komitmen penghentian pembahasan RUU Ekstradisi. Lam memastikan RUU tersebut sudah mati.

“Saya secepatnya menghentikan proses amandemen RUU Ekstradisi. Tapi, masih ada yang meragukan ketulusan pemerintah atau takut jika pemerintah memulai kembali proses di dewan legislatif. Saya tekankan di sini, tidak ada rencana itu. RUU itu sudah mati,” beber Lam dalam pengumuman resminya, Selasa (9/7), seperti dilansir Aljazeera.

Hanya saja, Lam belum menjelaskan akan mencabut sepenuhnya RUU ekstradisi seperti yang diminta oleh para demonstran.

RUU Ekstradisi memungkinkan penduduk Hongkong diekstradisi ke Tiongkok untuk diadili. Hal itu memicu protes keras dan membawa bekas koloni Inggris itu ke dalam krisis politik terbesar dalam beberapa dekade. Para pengunjuk rasa tak tertarik dengan upaya terbaru Lam untuk mengurangi suhu politik di wilayah semi-otonom.

Aktivis lokal Ventus Lau Wing-Hong mengatakan tidak melihat ada alasan untuk menghentikan demonstrasi besar-besaran. Lau sendiri didiskualifikasi dari pencalonan dalam pemilihan tahun lalu setelah menunjukkan dukungan untuk kemerdekaan Hongkong di Facebook.

“Responsnya (Carrie Lam, Red) hanya menunjukkan bahwa dia masih sangat keras kepala. Dia menghindari penggunaan kata ‘penarikan’ dan itu menunjukkan bahwa dia masih ingin memainkan permainan kata ketimbang langsung menjawab ‘ya’ atas permintaan kita sebagai demonstran. Saya tidak menemukan alasan penduduk Hongkong akan menghentikan aksi protes,” tegas Lau.

Sementara itu, aktivis Joshua Wong, pemimpin aksi pada 2014 silam yang dikenal dengan Umbrella Protest, menanggapi komentar Lam tentang status RUU Ekstradisi sebagai kebohongan yang konyol. Dia yakin RUU itu akan tetap dalam program legislatif pemerintah sampai Juli mendatang kecuali ditarik.

Selama beberapa minggu terakhir, unjuk rasa dengan tuntutan dicabutnya RUU Ekstradisi secara penuh terus marak. Bahkan, sampai diikuti jutaan orang.

Di sisi lain, Lam berjanji akan dilakukan penyelidikan terkait insiden bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi pada Minggu (7/7) lalu. Namun, penyelidikan menurutnya tidak dilakukan oleh badan independen.

Editor : Edy Pramana



Close Ads