alexametrics

Pemerintah Korut Beberkan Alasan Tahan Mahasiswa Australia

9 Juli 2019, 14:03:49 WIB

JawaPos.com – Pemerintah Korea Utara (Korut) akhirnya membeberkan kepada publik alasan menahan mahasiswa Australia, Alek Sigley, selama hampir satu pekan. Sigley sendiri sudah dibebaskan pada Kamis (4/7) lalu dalam kondisi aman dan sehat. Namun, Sigley tak memberikan penjelasan terperinci alasan dirinya ditahan. Di satu sisi, pemerintah Korut juga masih bungkam.

Sigley sebelumnya sempat dinyatakan hilang. Ternyata, dia ditahan pemerintah Korut dan kemudian dibebaskan. Pembebasan Sigley tak lepas dari diplomasi oleh pemerintah Swedia kepada Korut. Seperti diketahui, Australia tak memiliki kedutaan di Korut dan Swedia merupakan salah satu dari sedikit negara Eropa yang memiliki kedutaan di Korut. Swedia kerap menjadi perantara bagi negara-negara lain untuk menyelesaikan konflik dengan Korut.

Korut sendiri memberikan alasan terkait ditahannya Sigley. Mahasiswa Australia yang tengah menimba ilmu di Korut itu dinilai memata-matai kegiatan pemerintah Korut. Dia juga dinilai menyebarkan propaganda anti-Pyongyang. Hal tersebut disampaikan oleh kantor berita resmi Korut.

Cara kerja Sigley disebut Korean Central News Agency (KCNA) atau kantore berita resmi Korut dengan memberikan foto-foto dan bahan-bahan lainnya ke kantor-kantor berita dan bertujuan mengkritisi kebijakan Korea Utara. KCNA juga mengatakan setelah Sigley dibebaskan, pemerintah Korut langsung mendeportasinya pada Kamis (4/7). Sigley sendiri disebut KCNA telah memohon pengampunan terkait kegiatannya selama berada di Korut yang dinilai melanggar kedaulatan negara.

Sigley, 29, ditangkap oleh tim khusus Korut yang dijuluki “tangan merah” pada 25 Juni. Pemerintah Korut menegaskan bahwa Sigley telah menyalahgunakan statusnya sebagai seorang mahasiswa dengan mencari informasi soal Korut melalui Pyongyang dan memberikan foto dan informasi lainnya ke situs-situs berita seperti NK News dan media lain yang anti-Korea Utara. Dalam hal tersebut dikenal sebagai anti-DPRK (Democratic People’s Republic of Korea).

Korut pada akhirnya membebaskan Sigley dengan dalih kemanusiaan. Hal tersebut seperti dibeberkan oleh KCNA. “Dia (Sigley, Red) jujur ​​mengakui tindakan mata-matanya dengan mengumpulkan dan memberikan data secara sistematis tentang situasi domestik Korut. Dia juga berulang kali meminta pengampunan, meminta maaf karena melanggar batas atas kedaulatan Korut,” sebut KCNA.

Selama berada di Korut, Sigley sering membagikan tentang kehidupannya di Pyongyang melalui media sosial dan situs agen perjalanannya, Tongil Tours. Dia bahkan kerap menampik persepsi negatif dari luar tentang Korut dan berbicara tentang kebebasan luar biasa yang dia miliki sebagai salah satu dari sedikit mahasiswa asing yang tinggal di Korut.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs resminya, CEO NK News, Chad O’Carroll mengatakan Korut keliru menggambarkan artikel yang ditulis Sigley merupakan antinegara. O’Carroll menilai justru sebaliknya. Artikel Sigley yang dikirimkan ke UK News memuji kondisi di Korut.

“Kolom Sigley yang banyak dibaca menyajikan pandangan di luar politik dan wawasan tentang kehidupan di Pyongyang. Itu kami terbitkan dalam upaya untuk menunjukkan sketsa kehidupan sehari-hari di ibu kota Korut kepada pembaca kami,” beber O’Carroll seperti dilansir Aljazeera.

Korut sendiri pada masa lalu memang kerap menahan warga negara asing, terutama orang-orang Eropa yang dianggap melakukan mata-mata. Namun, dalam kasus Sigley, ada hal yang masih diapresiasi untuk Korut. Ayah Sigley, Gary Sigley, mengatakan putranya dirawat dengan baik di Korut selama ditanan. Tentunya itu lebih baik ketimbang kasus mahasiswa Amerika Serikat, Otto Warmbier, yang dihukum karena berusaha mencuri poster propaganda dan dipenjara di Korut. Warmbier meninggal dunia tak lama setelah dideportasi ke AS dalam keadaan koma pada Juni 2017.

Editor : Edy Pramana



Close Ads