alexametrics

AS Persilakan Turki Masuki Syria

8 Oktober 2019, 16:23:19 WIB

JawaPos.com – Habis manis sepah dibuang. Mungkin itulah peribahasa yang cocok bagi pasukan Kurdi yang tergabung dalam Syrian Democratic Force (SDF). Setelah delapan tahun membantu AS melawan ISIS, mereka ditinggal begitu saja.

Pengumuman mengejutkan tersebut datang dari Gedung Putih, Minggu (6/10). Mereka menyatakan bahwa tentara AS yang sedang berada di perbatasan timur laut Syria bakal ditarik. Pengumuman resmi itu merupakan karpet merah yang digelar AS untuk tentara Turki.

”Angkatan bersenjata AS tak ingin terlibat dalam operasi (Turki, Red). Dengan kalahnya ISIS, kami tak akan lagi berada di wilayah tersebut,” begitu pengumuman resmi dari Gedung Putih menurut Agence France-Presse.

Menurut New York Times, Presiden AS Donald Trump secara pribadi memberitahukan keputusan itu kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari yang sama. Langkah tersebut bakal merelokasi 100–150 personel militer AS dari wilayah yang diincar Turki. Namun, mereka belum akan dipulangkan dari Syria.

Angka itu memang sepele jika dibandingkan dengan total milisi SDF yang mencapai 60 ribu. Namun, senjata mereka jelas lebih mutakhir. Terlebih, Turki pasti ragu-ragu melakukan serangan saat nyawa tentara AS juga terancam.

Hal tersebut selama ini membuat SDF merasa aman. Yang mereka tak sangka, AS tiba-tiba mencabut dukungan itu. SDF hanya bisa pasrah saat melihat militer AS angkat kaki dari wilayah mereka, Senin (7/10). ”Sebagai SDF, tentu kami akan mempertahankan tanah air dengan segala cara,” ujar SDF dalam pernyataan resmi.

Banyak yang menduga Trump menjadi faktor terbesar dari langkah AS kali ini. Sejak Desember lalu, dia ngotot ingin memulangkan pasukan AS dari Syria. Dia juga sudah merestui operasi militer Turki, rekan sesama anggota NATO, di Syria.

Isu tersebut sempat tenggelam saat banyak tentangan yang keluar dari dalam negeri. Mereka menganggap bahwa hilangnya militer AS bisa membuat ekstremisme kembali merekah. Terlebih, kubu Rusia dan Iran bakal bebas bertindak di sana.

”Membiarkan Turki bergerak bebas di Syria Utara adalah langkah yang paling berbahaya. Bisa saja kaum Kurdi tak percaya kepada AS lagi dan mencari sekutu lain,” ungkap anggota Dewan Perwakilan AS Fraksi Demokrat Ruben Gallego.

Turki tentu mereka girang bukan kepalang. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menegaskan bahwa mereka akan menyapu bersih teroris dari wilayah itu. Masalahnya, yang dimaksud teroris adalah pejuang Kurdi yang tergabung dalam SDF, mantan sekutu AS.

”Seperti apa yang kami selalu katakan. Kami akan datang malam kapan pun tanpa peringatan,” ujar Erdogan.

Turki sejak lama menegaskan bahwa operasi tersebut bukanlah perebutan wilayah. Mereka hanya ingin menyediakan zona aman bagi pengungsi Syria untuk kembali.

TENTANG SYRIAN DEMOCRATIC FORCES
– Terbentuk Oktober 2015.
– Terdiri atas setidaknya 15 faksi militer. Sebagian besar dari etnis kurdi.
– Didukung 500 milisi asing.
– Punya sekitar 60 ribu personel.
– Bekerja sama dengan AS sejak 2016.
– 11 ribu personel SDF meninggal selama memerangi ISIS.
– Kekuatan militer utama datang dari kelompok YPG. Turki menganggap YPG sebagai organisasi teroris.

Sumber: GlobalSecurity.org

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c22/dos)



Close Ads