Turki, Rusia, Iran Miliki Kepentingan Sendiri di Perang Syria

08/09/2018, 15:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Masing-masing dari ketiga negara yakni Turki, Rusia, Iran memiliki kepentingannya sendiri dalam perang selama bertahun-tahun di Syria. Iran ingin mempertahankan pijakannya di negara Mediterania yang berdekatan dengan Israel dan Lebanon (ABC New)
Share this image

JawaPos.com - Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan, serangan terhadap Idlib akan menghasilkan bencana dan pembantaian. Solusi rasional di Idlib akan menjawab semua kekhawatiran yang perlu ditemukan.Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Pemerintah Syria segera memulihkan kendali atas seluruh wilayahnya.

Utusan perdamaian PBB untuk Syria pada hari Jumat, (7/9), menyerukan agar koridor evakuasi dibuka bagi warga sipil untuk melarikan diri dari serangan Syria yang parah di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak. PBB memperingatkan sebuah bencana kemanusiaan jika pasukan Syria, yang didukung oleh Rusia dan Iran, meluncurkan serangan habis-habisan di Idlib, benteng pemberontak besar terakhir.

"Orang-orang harus diberikan akses yang aman ke tempat-tempat yang mereka pilih sendiri jika mereka ingin pergi," kata Staffan de Mistura pada pertemuan Dewan Keamanan tentang krisis di Idlib. "Kami harus mengizinkan pembukaan sejumlah rute evakuasi sukarela yang dilindungi untuk warga sipil ke segala arah timur, utara dan selatan," katanya.

Perang Syria yang berkepanjangan membuat banyak orang mengungsi (Reuters)

Masing-masing dari ketiga negara yakni Turki, Rusia, Iran memiliki kepentingannya sendiri dalam perang selama bertahun-tahun di Syria. Iran ingin mempertahankan pijakannya di negara Mediterania yang berdekatan dengan Israel dan Lebanon.

Turki, yang mendukung pasukan oposisi melawan Presiden Syria Bashar Al Assad takut negaranya akan banjir pengungsi yang melarikan diri dari serangan militer di Syria. Sedangkan Rusia ingin mempertahankan kehadiran regionalnya untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh ketidakpastian panjang Amerika tentang apa yang diinginkannya dalam konflik.

"KTT Teheran dapat menghasilkan perdamaian dan rekonsiliasi di Syria atau dapat memperdalam kekacauan yang diciptakan oleh serangan kekerasan tak berujung yang terutama dihasut oleh rezim Assad," ujar penasihat senior untuk Erdogan, Ilnur Cevik menulis di koran Daily Sabah.

Bagi Rusia dan Iran, kedua sekutu Pemerintah Syria merebut kembali Idlib sangat penting untuk menyelesaikan apa yang mereka lihat sebagai kemenangan militer dalam perang saudara Syria setelah pasukan Syria merebut kembali hampir semua kota besar dan kota besar lainnya. Sebagian besar mengalahkan pemberontakan melawan Assad.

Seorang mantan diplomat Iran, Ali Akbar Farazi mengatakan kepada IRNA, KTT menunjukkan bahwa penyelesaian masalah regional dengan cara yang adil yang sesuai dengan kepentingan semua pihak tetap penting bagi ketiga negara.

Untuk Turki, taruhannya tidak bisa lebih tinggi. Turki sudah menampung 3,5 juta pengungsi Syria dan telah menutup perbatasannya dengan pendatang baru. Ini juga telah menciptakan zona kontrol di Syria Utara dan memiliki beberapa ratus pasukan yang dikerahkan di 12 pos pengamatan di Idlib.

Serangan pemerintah menciptakan skenario mimpi buruk yang berpotensi ratusan ribu orang, termasuk militan melarikan diri ke perbatasannya dan mmebuat kota-kota menjadi tak stabil.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi