alexametrics

Pencarian Penjahat Selama 20 Tahun Berakhir Berkat Bantuan AI

8 Mei 2019, 07:15:02 WIB

JawaPos.com – Perusahaan teknologi yang berbasis di Tiongkok mengembangkan kecerdasan buatan untuk membantu penegak hukum mencari buronan. Berbantu teknologi artificial intelligence (AI) tersebut, kepolisian Tiongkok akhirnya berhasil menangkap penjahat yang sudah 20 tahun buron.

Sebagaimana JawaPos.com kutip dari laman SouthChinaMorningPost (SCMP), Selasa (7/5), perusahaan tersebut bernama DeepGlint Technology. DeepGlint membantu polisi menangkap penjahat yang kabur selama 20 tahun dengan AI yang dikembangkannya. Pihak perusahaan menyebut sistemnya terinspirasi dari struktur mata manusia yang dapat menangkap gambar hingga mengidentifikasi baik individu maupun kendaraan sejauh 50 meter.

Perusahaan yang berbasis di Beijing itu didukung Sequoia berspesialisasi dalam bidang visi komputer yang melibatkan ekstraksi otomatis, analisis, dan pemahaman informasi yang berguna dari satu gambar atau urutan gambar yang lain.

Seperti sudah disinggung di atas, DeepGlint menyebut sistemnya terinspirasi dari struktur mata manusia dengan kemampuan menangkap gambar, mengidentifikasi individu dan kendaraan sejauh 50 meter. Sistem kemudian memperingatkan pihak berwenang jika ada kegiatan yang mencurigakan. Analisis gambar 3D dan teknologi pengenalan objek juga diklaim telah menangkap 100 pelaku kejahatan lainnya.

ilustrasi: Teknologi pengenalan wajah. (Gizmochina).

DeepGlint tak sendirian. Mereka bergabung dengan sejumlah perusahaan teknologi pengenalan wajah lainnya, seperti SenseTime Group, Yitu Technology, dan Megvii yang bersaing untuk membantu pihak berwenang memerangi kejahatan, menjaga ketertiban umum, dan meningkatkan kesehatan (melalui pemindaian dan diagnostik AI). Menurut informasi di situs webnya, DeepGlint mengembangkan laboratorium bersama dengan polisi Urumqi pada April 2018 lalu.

Penerapan teknologi pengawasan yang terus berkembang di Tiongkok ini juga menarik beberapa kritik. Malahan minggu lalu sebuah laporan Human Rights Watch mengungkapkan rincian aplikasi seluler yang digunakan polisi di Xinjiang untuk mengidentifikasi kelompok yang menjadi target. Yang lebih kontroversial, teknologi tersebut kabarnya juga telah digunakan untuk mengidentifikasi target di wilayah otonomi Xinjiang. Pemerintah dituduh mengasingkan lebih dari satu juta muslim Uygur terutama di kamp-kamp penampungan massal untuk mencegah aksi terorisme.

Polisi Tiongkok Dibekali Kacamata Canggih

Teknologi pengenalan wajah di Tiongkok tak hanya tertanam pada kamera pengawas atau CCTV saja. Lebih advance, anggota kepolisian Tiongkok juga dibekali sistem canggih berupa kacamata pintar yang mampu mengenali objek yang dilihatnya.

Para polisi Tiongkok terlihat mengenakan kacamata yang ditempelkan kamera. Namun, ini bukan kamera biasa, melainkan kamera pengenal wajah untuk memudahkan polisi melacak penjahat. Kacamata ini terhubung ke database internal dan mampu mengenali tersangka kejahatan yang melarikan diri. Dengan ini petugas bisa dengan cepat mencari buronan.

Teknologi ini membantu petugas polisi mengambil foto seseorang yang mencurigakan kemudian membandingkannya dengan gambar yang tersimpan dalam database internal. Jika ada kecocokan, informasi seperti nama dan alamat orang tersebut kemudian akan dikirim ke petugas dan berakhir dengan penindakan.

Tiongkok memang diketahui memimpin dunia dengan teknologi pengenalan wajah. Tujuannya agar warga tidak berbuat seenaknya. Negara tersebut juga membuat jaringan pengawasan dengan kamera terbesar di dunia. Ada 170 juta kamera CCTV di sudut-sudut jalan dan 400 juta lainnya akan dipasang tiga tahun ke depan.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Rian Alfianto



Close Ads