alexametrics

Sebelas Ribu Ilmuwan Deklarasikan Darurat Iklim

Berubah atau Bersiap Hadapi Petaka
7 November 2019, 18:35:48 WIB

Perubahan iklim yang begitu drastis saat ini hanyalah awal. Lebih dari 11 ribu ilmuwan menegaskan bahwa penduduk bumi akan mengalami penderitaan luar biasa akibat krisis iklim jika tidak mau mengubah gaya hidup secepatnya.

SITI AISYAH, Jawa Pos

JawaPos.com – Ikan tergeletak mati lantaran kekeringan di Nqweba Dam, Graaff-Reinet, Afrika Selatan. Dam yang seharusnya menjadi sumber air penduduk itu kering kerontang.

Tidak ada hujan selama lima tahun terakhir di Graaff-Reinet. Penduduk kelimpungan. Mereka bertahan dengan air sumbangan dari beberapa lembaga kemanusiaan. Ternak-ternak mati kehausan. Suhu udara di kota itu juga terus naik dari tahun ke tahun.

Yang terjadi di Graaff-Reinet hanyalah contoh kecil krisis perubahan iklim di bumi. Perubahan harus segera dilakukan jika tidak ingin menghadapi bencana. Karena itulah, lebih dari 11 ribu ilmuwan dari 153 negara memberikan peringatan.

“Kami menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa planet bumi menghadapi keadaan darurat iklim,” bunyi pernyataan para ilmuwan tersebut yang dipublikasikan dalam jurnal BioScience Selasa (5/11). Jurnal itu dikeluarkan untuk memperingati 40 tahun konferensi iklim dunia pertama di Jenewa 1979.

ACARA TAHUNAN: Seorang pria mengosongkan kantong berisi sampah saat kampanye Clean-up Day di Dakar, Senegal (15/9). (SEYLLOU/AFP)

Salah satu yang harus direm adalah populasi penduduk dunia. Saat ini per hari ada tambahan 200 ribu penghuni baru planet bumi. Mereka juga menyarankan para politikus agar menerapkan pajak yang besar kepada para penghasil karbon. Dengan begitu, penggunaan bahan bakar yang yang berasal dari fosil bisa ditekan. Pemakaian minyak dan gas alam harus diganti dengan energi terbarukan.

“Krisis iklim telah tiba dan makin cepat dari perkiraan kebanyakan ilmuwan. Ini lebih parah daripada antisipasi yang dilakukan, mengancam ekosistem alami dan nasib umat manusia,” bunyi pernyataan para ilmuwan di jurnal tersebut sebagaimana dikutip The Guardian.

Sementara itu, Greenpeace mengungkapkan bahwa alat pancing dan jaring nelayan berperan besar mengotori lautan. Diperkirakan, setiap tahun ada 640 ribu ton alat pancing dan peralatan milik nelayan yang dibuang ke laut.

Peneliti asal Belanda, Boyan Slat, berupaya mengatasi sampah laut dengan menciptakan alat yang diberi nama Interceptor. Alat yang diciptakan pemuda 25 tahun itu bisa mengumpulkan sampah yang mengambang di lautan. Pendiri The Ocean Clean-up tersebut akan meletakkan alatnya di sungai-sungai yang menjadi pintu masuk sampah ke laut.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (*/c14/dos)



Close Ads