alexametrics

Palestine Youth Orchestra, Bertahan dan Melawan ala Seniman

Biar Ngebut, Kerap Latihan lewat Skype
7 Agustus 2019, 17:39:30 WIB

Warga Palestina punya banyak cara untuk melawan penindasan kubu Israel. Salah satunya, melalui seni. Musisi dari negeri terisolasi itu berusaha membuktikan bahwa mereka bisa berkarya di tengah semua halangan. Musim panas ini, mereka mewujudkan mimpi tersebut dengan memulai tur Eropa.

MOCHAMAD SALSABYL ADN, Jawa Pos

JawaPos.com – Pos pemeriksaan perbatasan Tepi Barat-Jerusalem, 2008. Nai Barghouti menangis sejadi-jadinya. Dia menelepon sang ayah karena petugas melarangnya masuk ke Jerusalem. Berkali-kali dia berkata kepada petugas bahwa dirinya sudah melewati pos itu setiap minggu.

Gadis cilik 11 tahun tersebut selalu pergi ke Jerusalem untuk kursus musik dengan membawa surat izin dan fotokopi akta kelahiran. Kali ini petugas meminta salinan asli akta itu. Mereka tak memberikan celah sedikit pun agar Nai tak telat datang ke kursus.

Tak lama, Omar Barghouti datang. Melihat putrinya sesenggukan, dia menawarinya untuk pulang. “Tidak. Saya tidak akan pulang karena itulah yang mereka inginkan,” ucap Nai kepada ayahnya menurut Al Jazeera.

Tahun 2019, Nai Barghouti sudah keliling dunia sebagai penyanyi genre Arab klasik. Namun, perempuan 22 tahun tersebut tak pernah lupa dengan akarnya. Dia tetap bertahan dengan Edward Said National Conservatory of Music (ESNCM). Lebih tepatnya, sebagai pemain flute di Palestine Youth Orchestra (PYO).

Bagi Nai, seruling dan orkestra tersebut punya arti yang besar. Nai, nama yang diberi sang ibu, Safa Tamish, bermakna suling kayu. Karena itulah, dia diikutkan kursus flute di ESNCM cabang Jerusalem sejak usia 7 tahun.

“Sampai sekarang, saya bersyukur bisa terus menghadiri latihan musik. Saya tahu ini hak saya,” ungkap Nai.

Kemudian, dia mulai mengenal PYO pada masa remaja. Kelompok tersebut didirikan Kepala ESNCM Suhail Khoury pada 2004. Saat itu dia merasa bahwa banyak generasi muda Palestina yang punya bakat bermusik. Masalahnya, mereka semua terpencar.

“Karena itu, saya mengundang mereka untuk membentuk orkestra. Di mana pun kami, jika kamu keturunan Palestina dan musisi, ini adalah alamatmu,” ungkapnya.

Seiring waktu, standar PYO mulai berubah. Mereka menerima musisi keturunan etnis Arab berusia 14-26 tahun. Misi mereka satu, menunjukkan kepada dunia bahwa Palestina bukanlah negara terbelakang dan primitif.

“Ketika Palestina disebut, kata yang muncul adalah pendudukan dan orang yang kurang mampu. PYO membuktikan bahwa kami adalah negara yang kuat, kreatif, dan indah,” imbuh Nai.

Khoury tak punya target jangka pendek atau pun panjang. Sepengetahuannya, target satu-satunya adalah mempertahankan orkestra. Sebab, tanpa kemauan yang besar, PYO bakal langsung layu sebelum berkembang.

Karena pemain yang terpisah dari berbagai penjuru dunia, latihan bukanlah hal yang mudah. Terkadang, mereka harus puas berlatih lewat aplikasi Skype. Saat mau pentas pun susah. Banyak pemain dari Tepi Barat atau Gaza yang tak mendapatkan izin keluar negeri oleh Israel.

Jika pemain dari Jordania atau Lebanon ingin ke Palestina, mereka juga dicegah pemerintah Israel. “Otoritas Israel jelas takut dengan pemusik Palestina. Kalau tidak, mereka tak mungkin mencegah kami berkarya,” ungkapnya.

Khoury harus mencari solusi terhadap halangan itu. Akhirnya, semua pemain PYO harus terbiasa latihan dengan sistem kebut sepekan sebelum pentas. Biasanya, mereka bertemu di tempat netral, lalu mengasah kekompakan mereka.

Mereka juga harus bersiap dengan semua kondisi. Kadang, beberapa pemain mereka gagal mendapatkan izin keluar. Otomatis, barisan orkestra dan komposisi musik harus segera diubah.

Tahun ini mereka berkumpul di Norwegia. Mereka bakal mewujudkan mimpi untuk bertahan dan mendunia. Dari Norwegia, mereka bakal ke negara lain seperti Swedia, Denmark, Jerman, dan Belanda. “Inilah pesan kami kepada dunia. Inilah perlawanan kami,” ujar Zeina Khoury, manajer PYO. (*)

Editor : Edy Pramana



Close Ads