alexametrics

Menghukum Negara Nuklir Seperti Rusia Bisa Bahayakan Umat Manusia

7 Juli 2022, 11:29:52 WIB

JawaPos.com – Upaya Barat untuk menghukum negara nuklir seperti Rusia dinilai membahayakan umat manusia. Hal tersebut dikatakan mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev, Rabu (6/7) waktu setempat.

Invasi Rusia di Ukraina sejak 24 Februari lalu telah memicu krisis terparah dalam hubungan Rusia dan Barat sejak krisis rudal Kuba pada 1962. Saat itu dunia dikhawatirkan bakal dilanda perang nuklir.

Presiden AS Joe Biden menilai Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan penjahat perang. Negara-negara Barat pimpinan AS telah mempersenjatai Ukraina dan menjatuhkan berbagai sanksi pada Rusia.

“Gagasan untuk menghukum salah satu negara nuklir terbesar adalah hal yang absurd. Dan berpotensi mengancam keberadaan manusia,” kata Medvedev, yang kini menjabat wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, di Telegram.

Rusia dan Amerika Serikat menguasai sekitar 90 persen senjata nuklir di dunia, masing-masing memiliki sekitar 4.000 hulu ledak, kata Federasi Ilmuwan Amerika.

Medvedev menuduh AS sebagai negara yang bertanggung jawab menumpahkan darah di seluruh dunia. Medvedev menyebut pembunuhan terhadap penduduk asli Amerika, serangan nuklir AS di Jepang, dan berbagai perang mulai dari Vietnam hingga Afghanistan. Dia mengatakan upaya menggunakan pengadilan internasional untuk menyelidiki aksi Rusia di Ukraina akan sia-sia dan berisiko memicu kerusakan global.

Sementara, Ukraina dan sekutunya di Barat mengatakan pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang. Mereka juga mengatakan Rusia berusaha merebut wilayah negara lain seperti kekaisaran, yang menyulut konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Pada Minggu (3/7), Putin mengeklaim telah meraih kemenangan terbesar setelah tentara Ukraina ditarik mundur dari wilayah Luhansk. Pasukan Rusia kemudian melancarkan serangan untuk merebut wilayah sebelahnya, Donetsk. Luhansk dan Donetsk adalah dua wilayah yang membentuk Donbas, target utama pasukan Rusia sejak gagal merebut ibu kota Kiev di awal invasi.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Antara

Saksikan video menarik berikut ini: