alexametrics

Proyek 5G Jalan Terus, Xi Jinping Bawa Huawei ke Rusia

7 Juni 2019, 18:17:36 WIB

JawaPos.com – “Presiden (Vladimir) Putin adalah teman karib saya. Dalam enam tahun terakhir, kami sudah bertemu 30 kali.” Kalimat itu meluncur dari bibir Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam jumpa pers usai penandatanganan 30 perjanjian dengan Rusia pada Rabu (5/6). Dalam penuturan singkatnya, Xi menegaskan betapa eratnya persahabatan dua negara.

Xi boleh tersenyum puas. Agence France-Presse melaporkan bahwa Putin menyepakati kontrak pengembangan teknologi 5G dengan Huawei. Dalam berkas tertulis itu disebutkan bahwa perusahaan telekomunikasi Rusia MTS akan menggandeng raksasa teknologi Tiongkok tersebut dalam pilot project 5G tahun depan.

Dukungan Rusia itu menjadi angin segar bagi Tiongkok. Belakangan, rumor yang diembuskan Washington tentang Huawei dan perannya sebagai antek Partai Komunis Tiongkok membuat Beijing repot. Pemerintahan Xi harus berjuang menyelamatkan citra salah satu korporasi terbesar mereka tersebut. Apalagi, AS meminta seluruh sekutunya di Eropa untuk ikut-ikutan memboikot Huawei.

“Tentu kami senang mendengar kabar ini. Kami yakin teknologi 5G Tiongkok akan memimpin pasar global,” ujar Guo Ping, salah seorang petinggi Huawei.

Di sisi Rusia, Putin mengaku tak keberatan bekerja sama dengan Huawei. Karena sejak awal hubungan Moskow dan Washington tidak pernah mesra, pemimpin 66 tahun itu merasa tidak perlu mengindahkan imbauan AS soal Huawei.

Sebaliknya, Rusia dan Tiongkok justru punya banyak kesamaan. Sama-sama berpaham komunis dan sama-sama dimusuhi AS. Maka, saat AS makin agresif menyudutkan Huawei, Rusia dan Tiongkok justru semakin dekat. “Kami sepakat untuk terus mempererat kerja sama pada masa-masa mendatang,” tegas Putin kepada CNN.

Mungkin, itulah alasan utama mengapa Xi menghadiahkan dua panda raksasa ke kebun binatang di Moskow. Xi sepertinya sudah frustrasi menghadapi Trump yang terus menghantam Tiongkok dengan sanksi. Dan, Rusia boleh jadi adalah jawaban bagi mereka.

“Mereka seperti ingin menunjukkan bahwa hubungan dua negara bisa melawan aksi AS yang semena-mena,” ujar Willy Lam, dosen di The Chinese University of Hong Kong.

Pesan serupa muncul dalam keputusan terbaru Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok kemarin (6/6). Lembaga itu menerbitkan izin 5G untuk empat operator telekomunikasi. Itu menegaskan bahwa rencana untuk mengembangkan teknologi 5G bakal berlanjut meski kehilangan dukungan AS dan beberapa negara lainnya.

“Tentu kami menyambut perusahaan asing yang ingin masuk pasar 5G di Tiongkok,” ujar Menteri Industri dan Teknologi Informasi Miao Wei.

Kepala GSMA Intelligence Peter Jarich mengatakan, pengembangan 5G di Tiongkok tak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, Tiongkok merupakan salah satu pasar ponsel terbesar di dunia. Dengan pengguna 4G lokal mencapai 722,6 juta jiwa pada April 2019, nilai pasar 5G di Negeri Tirai Bambu itu diprediksi akan mencapai 1,5 triliun yuan (Rp 3.092 triliun) dalam lima tahun mendatang.

Namun, ada juga pakar yang pesimistis terhadap Huawei. Pengamat industri teknologi Edison Lee mengungkapkan bahwa pengembangan 5G di Tiongkok pasti tertunda. Sebab, banyak komponen yang harus diimpor dari AS.

Meksiko Jadi Sasaran Berikutnya

PRESIDEN AS Donald Trump, sepertinya, menganggap sanksi tarif sebagai cara paling ampuh untuk menaklukkan negara lain. Pada saat perselisihan dengan Tiongkok masih panas, Trump memantik perang baru dengan Meksiko. Temanya masih sama, seputar bisnis dan perdagangan.

Pemerintahan Trump yang menanggung defisit USD 72,7 miliar (Rp 1.039 triliun) itu mengancam Meksiko soal imigran ilegal. Jika negara tetangga tersebut tidak segera menutup perbatasan di kawasan selatan yang menjadi pintu masuk imigran gelap, AS akan memberlakukan tarif impor. Angkanya hanya 5 persen. Tapi, tarif itu akan diberlakukan untuk seluruh komoditas Meksiko yang masuk AS.

Washington memberikan waktu sampai pekan depan kepada Meksiko untuk mengabulkan permintaannya. Ancaman itu memaksa Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard bertolak ke Washington Rabu (5/6). Dia langsung berbincang dengan tim pemerintahan Trump untuk mencari solusi. Pemberlakuan tarif jelas akan membuat Meksiko rugi. “Ada kemajuan pada hari pertama. Tapi, itu belum cukup,” kata Trump tentang perundingan itu sebagaimana diberitakan Agence France-Presse.

Ebrad dan Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro masih terlibat dialog serius hingga kemarin (6/6). Kedua pihak berharap ada titik temu yang bisa dicapai sebelum pekan depan. “Mungkin tarif tak akan berlaku. Meksiko sudah mengindahkan kami,” ujar Navarro kepada CNN.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : bil/c10/c6/hep