alexametrics

Massa Demonstran Tak Gubris Ajakan Dialog

Warga Hongkong Masih Berdemo
6 September 2019, 15:34:57 WIB

JawaPos.com – Pernyataan Carrie Lam ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, chief executive Hongkong itu mengajak dialog. Namun, di sisi lain, dia juga menebar ancaman untuk menegakkan aturan hukum jika kekerasan terus terjadi. Lam memang harus memutar otak. Sebab, hingga kemarin (5/9), demonstran masih turun ke jalan.

“Untuk keluar dari jalan buntu, hal terpenting saat ini adalah menghentikan kekerasan dan menegakkan hukum dengan tegas,” ujar Lam dalam sesi konferensi pers kemarin.

Politikus 62 tahun itu menegaskan, keputusannya mencabut Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi Rabu (4/9) bertujuan mencegah kekerasan dan menghentikan kerusuhan secepatnya, mengembalikan tatanan sosial, membantu perekonomian, serta memajukan kehidupan penduduk.

“Jika kekerasan masih terjadi setiap hari, itu akan berdampak pada operasional kota dan kehidupan warga sehari-hari,” terangnya sebagaimana dikutip The Guardian.

Lam sekali lagi menekankan bahwa dirinyalah yang membuat keputusan untuk mengusulkan RUU Ekstradisi dan juga untuk pencabutannya. Tidak ada campur tangan dari Tiongkok. Meski begitu, sejak awal, Beijing mendukung penuh keputusannya.

Tak mau situasi terus memanas, Lam lagi-lagi meminta demonstran untuk berdialog. Dia meminta demonstran moderat memisahkan diri dari kelompok yang lebih militan. Permintaan Lam bakal sulit dipenuhi. Sebab, demo kali ini berbeda dengan massa umbrella movement pada 2014. Kala itu demo digerakkan para aktivis yang didapuk jadi pemimpin. Joshua Wong salah satunya.

IKUT BERDEMO: Teddy Bear yang menjadi ”peserta aksi” dengan membentuk rantai manusia di salah satu kampus kedokteran di Hongkong kemarin (5/9). (VINCENT YU/AP)

Massa yang turun ke jalan saat ini tidak memiliki pemimpin, tidak ada koordinator. Mereka berdiskusi di forum-forum online sebelum menggelar aksi. Siapa pun bisa mengusulkan langkah selanjutnya yang diambil demonstran. Dengan kata lain, tak ada pentolan demonstran yang bisa diajak untuk berdialog dengan pemerintah.

Bagi pada demonstran, langkah yang diambil Lam saat ini sudah terlalu terlambat. Mereka menganggap Lam hanya memberikan plester untuk luka menganga yang diderita penduduk Hongkong. Demonstran malah sudah merencanakan aksi baru. Salah satunya memblokade jalur transportasi menuju bandara.

“Tidak akan ada rekonsiliasi sejati tanpa adanya reformasi institusional yang konkret,” cuit Brian Leung sebagaimana dikutip Agence France-Presse. Leung adalah demonstran yang terkenal karena foto-fotonya tanpa masker saat menduduki parlemen. Dia kini melarikan diri ke luar negeri.

Sementara itu, Hong Kong Free Press melaporkan bahwa rumah Jimmy Lai diserang. Semacam bom yang memicu api dilempar ke kediaman pendiri Apple Daily itu. Lai selama ini dikenal sebagai taipan media dan pengusaha sukses yang secara terbuka mendukung massa prodemokrasi. Pria kelahiran Guangdong, Tiongkok, itu bahkan dilabeli sebagai pengkhianat oleh media-media milik pemerintah.

Juru bicara Lai, Mark Simon, mengungkapkan bahwa atasannya baik-baik saja. Dia menuding kelompok penjahat yang terorganisasi terlibat dalam serangan tersebut. Pekan lalu demonstran yang sedang naik kereta api dan dalam perjalanan pulang juga diserang sekelompok preman.

Di sisi lain, perusahaan pakaian Zara juga dikait-kaitkan dengan aksi demo di Hongkong. Ia dikecam karena 4 dari 14 tokonya buka lebih lambat dari biasanya saat demo berlangsung. Penduduk Tiongkok menuding Zara mendukung aksi massa. Zara langsung minta maaf. Mereka menegaskan tidak terlibat dalam politik dan keterlambatan pembukaan toko terjadi karena masalah transportasi.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c17/dos)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads