alexametrics

Ethiopia Mencekam, Kematian Penyanyi Picu Kerusuhan Etnis, 166 Tewas

6 Juli 2020, 06:36:20 WIB

JawaPos.com – Pembunuhan terhadap penyanyi populer di Ethiopia, Hachalu Hundessa, berbuntut panjang. Peristiwa itu memicu kerusuhan etnis. Kondisi di ibu kota, Addis Ababa, kini mencekam. Kerusuhan tersebut mengakibatkan 166 orang tewas.

Seorang kepala polisi mengatakan bahwa 145 warga sipil dan 11 personel keamanan tewas di wilayah Oromia. Dan ada 10 orang tewas di Addis Ababa.

Hachalu, 34, terbunuh pada Senin (26/7) lalu dengan luka tembak. Insiden itu memicu kerusuhan yang menyebar di Oromia. Sosok Hachalu selama ini dikagumi dan dianggap sebagai pahlawan. Motif pembuhuhan terhadapnya belum jelas. Sebelum tewas, Hachalu sempat menerima ancaman pembunuhan. Hal ini seperti dilansir dari BBC, Minggu (5/7).

Lagu-lagu Hachalu selama ini berfokus pada hak-hak orang-orang Oromo yang merupakan kelompok etnis terbesar Ethiopia. Dan menjadi lagu kebangsaan dalam gelombang protes yang menyebabkan jatuhnya perdana menteri sebelumnya pada 2018.

Wartawan BBC Ethiopia, Kalkidan Yibeltal mengatakan ketegangan etnis dan agama meningkat setelah pembunuhan Hachalu. Wakil Komisaris Polisi Oromia Girma Gelam mengatakan 167 orang lainnya mmengalami cedera serius selama kerusuhan.

Gelam mengatakan bahwa 1.084 orang telah ditangkap dalam kerusuhan itu. Dia mengklaim bahwa petugas berhasil mengamankan situasi dan kini terkendali.

Sementara itu, Perdana Menteri Abiy Ahmed yang juga dari etnis Oromo, yang berkuasa pada April 2018, telah memperingatkan bahwa mereka yang berada di balik kematian Hachalu ingin menggagalkan program reformasinya. Dia menggerakkan kampanye perubahan di negara itu.

“Kami memiliki dua pilihan sebagai rakyat. Mau jatuh dalam perangkap atau menyimpang dari perangkap mereka dan tetap pada jalur reformasi,” ungkap PM Abiy Ahmed.

Sejak masa mudanya, Hachalu Hundessa dianggap sebagai duri dalam daging di dalam pemerintahan. Sebagai seorang siswa di Ambo, Hachalu bergabung dengan kelompok siswa yang menyerukan kebebasan. Pada usia 17 tahun, dia dipenjara selama lima tahun karena aktivitas politiknya.

Selama di dalam penjara, dia semakin kenal politik karena meningkatkan pengetahuannya tentang sejarah Ethiopia, termasuk pemerintahan kaisar dan otokrat. Di dalam penjara juga, bakat dan keterampilan bermusiknya bisa diasah.

“Saya tidak tahu bagaimana menulis lirik dan melodi sampai saya ditempatkan di balik jeruji. Di sanalah saya belajar,” kata Hachalu pada 2017 silam.

Dia merilis album pertamanya yakni Sanyii Mootii (Race of the King) pada 2009, setahun setelah bebas. Lagu itu mengubahnya menjadi bintang musik, dan simbol politik aspirasi rakyat Oromo. “Saya bukan politisi, saya seorang seniman,” ujarnya.

Sebagai etnis, orang-orang Oromo telah lama mengeluh karena dikesampingkan. Demonstrasi meletus pada 2016. Koalisi yang berkuasa akhirnya menggantikan Perdana Menteri Hailemariam Desalegn dengan PM Abiy.

PM Abiy telah membawa serangkaian reformasi yang telah mengubah penindasan. Namun, ketegangan etnis yang telah berlangsung lama berubah menjadi kekerasan. PM Abiy pada akhirnya memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 2019 karena kerja kerasnya dalam mengatasi kekerasan antar etnis di Ethiopia.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads