alexametrics

Ditangkap Bersama Pendemo, Wartawan Mesir Akhirnya Bebas

6 Maret 2019, 06:05:07 WIB

JawaPos.com – Pada 14 Agustus 2013, Mahmoud Abu Zeid datang ke Alun-Alun Rabaa Al Adawiya, Kairo, dengan kamera kesayangan. Harapannya, dia bisa mendapatkan gambar bagus yang akan dikirim ke berbagai kantor berita. Juru foto lepas tersebut tak pernah tahu bahwa pekerjaannya waktu itu membuat dia menghabiskan lima tahun di balik jeruji penjara.

Aspal. Entah kenapa, itulah yang kali pertama disapa Mahmoud Abu Zeid saat keluar dari pintu kantor polisi El Khalifa, Kairo, kemarin (4/3).

Itulah yang tampak pada unggahan foto pertama Shawkan –julukan Mahmoud Abu Zeid– sebagai orang bebas. Sepertinya, lelaki 32 tahun tersebut ingin memamerkan status kebebasannya.

wartawan mesir, mesir, pendemo,
Aspal. Entah kenapa, itulah yang kali pertama disapa Mahmoud Abu Zeid saat keluar dari pintu kantor polisi El Khalifa, Kairo (Reuters)

Senyumnya lebar di unggahan foto. Dengan latar belakang jalan umum, langit subuh yang gelap, dan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang menyilaukan, dia asyik berswafoto bersama kakaknya, Mohamed, dan ayahnya, Abdel Shakour.  ”Saya tak bisa menggambarkan perasaan saya. Saya bebas,” ujar Shawkan saat ditelepon Reuters.

Lima tahun di penjara memang terasa seperti selamanya. Tak heran, kerinduan menyambut Shawkan di kampung halamannya.

”Semua jurnalis pasti dihantui risiko terbunuh atau dipenjara. Saya bukan yang pertama atau yang terakhir,” tegas pria yang memulai karir di kantor berita foto Demotix tersebut.

Pemuda yang disidang bersama lebih dari 700 terdakwa lain itu hampir menemui ajalnya. Pada sidang awal, dia dituduh ikut demo ilegal, terlibat pembunuhan, dan mengikuti organisasi terlarang Ikhwanul Muslimin.

Shawkan diperlakukan sama dengan pendemo lain. Posisinya sebagai jurnalis freelance membuat statusnya makin rancu. Pengadilan tak menghiraukan bukti bahwa pemenang Press Freedom Prize dari UNESCO itu membawa kamera untuk bekerja.

”Tak ada jurnalis yang boleh dipenjara hanya karena melakukan pekerjaan mereka,” ujar Direktur Amnesty International Inggris Kate Allen kepada The Guardian.

Untung, Shawkan terbebas dari hukuman mati berkat kerja keras pengacaranya, Taher Abolnasr. Hanya, tidak berarti namanya menjadi bersih. Pengadilan tetap menghukum Shawkan lima tahun penjara karena bergabung dengan organisasi terlarang.

Pembebasan Shawkan berbelit-belit. Jurnalis foto yang seharusnya sudah dibebaskan tahun lalu tersebut baru menginjak tanah di luar penjara kemarin. ”Saya berdoa bahwa nasibnya berubah setelah ini,” ujar Abolnasr.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (bil/c11/dos)


Close Ads
Ditangkap Bersama Pendemo, Wartawan Mesir Akhirnya Bebas