JawaPos Radar

Serangan Udara Gempur Idlib, Puluhan Warga Sipil Tewas

05/09/2018, 09:23 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
serangan idlib syria, syria serangan udara, syria warga sipil
Serangan udara yang menggempur wilayah Idlib, Syria, yang dikuasai pemberontak, Selasa (5/9). (Anadolu)
Share this

JawaPos.com - Serangan udara menggempur wilayah Idlib, Syria, yang dikuasai pemberontak, Selasa (5/9) waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan sejumlah warga sipil dan meningkatkan kekhawatiran adanya serangan susulan.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu (5/9), gempuran itu terjadi ketika PBB mendesak Rusia, sekutu pemerintah Syria, dan Turki yang mendukung kelompok pemberontak tertentu di Idlib, untuk membantu mencegah 'pertumpahan darah'.

Kontributor Al Jazeera Stefanie Dekker dari Turki melaporkan bahwa setidaknya 24 serangan menghantam wilayah Idlib Selasa (4/9) pagi. Para aktivis mengaku melihat pesawat tempur rezim Rusia dan Syria di langit.

Pengeboman itu menyasar Kota Jisr al-Shughour di tepi barat Idlib, juga kota-kota dan desa-desa sekitarnya. Serangan itu berlangsung selama beberapa jam sebelum mereda sekitar pukul 19:00 waktu setempat (17:00 GMT).

Anggota White Helmets Ahmed Yarji mengatakan, sedikitnya 10 warga sipil tewas dalam serangan udara dan 20 lainnya terluka. White Helmets adalah tim penyelamat yang beroperasi di wilayah yang dikuasai pemberontak.

Sumber-sumber lain menyebutkan korban tewas paling sedikit 17 orang. Malahan, kata Yarji, ada lima anak dari anggota keluarga yang sama dan berusia antara lima dan 11 tahun, semuanya tewas akibat serangan tersebut.

"Rumah sipil adalah satu-satunya bangunan yang menjadi sasaran," kata pria berusia 33 tahun itu. "Petugas medis bisa membantu korban, tetapi itu sangat menantang. Sebab, jalan utama yang digunakan ambulans juga dibom," tambah Yarji.

Saat ini warga daerah itu ketakutan untuk tidur di dalam rumah mereka. "Banyak yang memilih untuk tidur di padang gurun, mereka takut ada serangan udara susulan," katanya.

Serangan-serangan terbaru itu juga mendorong puluhan orang melarikan diri ke arah Aleppo di sisi timur Idlib, atau menuju Turki. Tak lama sebelum serangan Selasa (4/9) itu, Kremlin menyebut Idlib sebagai 'kantong terorisme' dan mengatakan kehadiran kelompok pemberontak di sana memperpanjang penyelesaian perang politik tujuh tahun Syria. "Kami tahu bahwa angkatan bersenjata Syria sedang bersiap untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Juru Bicara Russia Dmitry Peskov.

Sementara Presiden Syria Bashar al-Assad telah bersumpah untuk merebut kembali 'setiap inci' Syria. Turki, yang pasukannya mengendalikan serangkaian pos militer di sekitar Idlib, selama berminggu-minggu terlibat dalam upaya diplomatik untuk mencegah serangan pemerintah Syria terhadap Idlib. Sementara itu, Turki, Rusia, dan Iran, yang juga sekutu besar Assad, diperkirakan akan mengadakan pertemuan puncak Syria di Teheran pada Jumat.

Di Jenewa, utusan PBB, Staffan de Mistura menyerukan para pemimpin Rusia dan Turki untuk membuat solusi dalam beberapa hari mendatang. Hal ini guna mencegah pertempuran besar kembali memanas di Idlib. "Panggilan telepon antara Anda berdua akan membuat perbedaan besar," kata de Mistura, berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan langsung dalam pengarahan media. Menurutnya, Rusia dan Turki harus diberi lebih banyak waktu untuk menegosiasikan cara mencegah serangan.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up