alexametrics

Suasana Orchard Road Singapura yang Sepi Dihantam Pandemi Covid-19

5 Agustus 2020, 09:27:51 WIB

JawaPos.com – Wisatawan pasti paham Orchard Road di Singapura sebagai kawasan perbelanjaan terkenal. Kawasan ini paling top dan ramai dikunjungi wisatawan. Tapi, semenjak pandemi Covid-19, ketika berjalan menyusuri Orchard Road menunjukkan betapa pandem telah menghantam pusat perbelanjaan terkenal di Singapura itu.

Dilansir dari Free Malaysia Today, Rabu (5/8), restoran populer seperti Modesto, tutup pada bulan lalu setelah 23 tahun. Juga tak terlihat lagi antrean turis Tiongkok di luar gerai Chanel dan Louis Vuitton. Mal-mal sepanjang 2,4 km, yang pernah menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbaik di Asia, hanya terlihat toko-toko kosong.

Pada sore hari, staf toko iseng membersihkan rak atau bermain dengan ponsel mereka karena sepi pelanggan. “Ini krisis terburuk bagi Singapura dan Orchard Road,” kata Kiran Assodani, yang telah menjalankan toko penjahit di salah satu mal selama 35 tahun.

Outlet yang melayani wisatawan dan penduduk lokal telah mengalami penurunan penjualan sebesar 90 persen. Mereka tak tahu badai akan berlangsung sampai kapan. Pembatasan perjalanan global merugikan Singapura sekitar USD 20 miliar dalam sektor pariwisata.

Orchard Road awalnya merupakan lahan perkebunan buah, pala, dan lada di awal abad ke-19. Kemudian diubah menjadi pusat perbelanjaan mewah. Toko swalayan pertama dibuka pada tahun 1958. Lokasi itu mencerminkan pertumbuhan Singapura menjadi salah satu negara terkaya di dunia.

Restoran Italia Modesto selamat dari wabah SARS dan krisis keuangan Asia. Akan tetapi kalah akibat Coronavirus saat ini. Restoran Modesto di sepanjang Orchard Road ditutup pada Sabtu (25/7) lalu.

Robert Chua, yang mengelola toko koper di Far East Plaza, mengaku dia hanya bisa bertahan sekitar dua bulan lagi. Dia biasa menerima omzet sekitar SGD 25 ribu dalam sebulan menjual koper dan ransel untuk sebagian besar turis Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sekarang, SGD 300 saja sudah bersyukur. Beberapa hari bahkan tidak ada pelanggan sama sekali.

“Setiap hari saya datang ke toko dengan perasaan sedih,” kata pria 50 tahun itu.

Di dalam buku rekeningnya, dia menyimpan tiga uang kertas SGD 50 sebuah takhayul Tiongkok yang dimaksudkan untuk menjaga agar uang tetap mengalir, tetapi tidak berhasil. “Saya tidak bisa tidur memikirkan pengeluaran yang harus dibayar,” jelasnya.

Setidaknya 20 toko di Far East Plaza, yang merupakan bagian yang dimiliki oleh keluarga miliarder di belakang RB Capital juga kosong. Stiker For Rent (disewakan) terpampang. Beberapa toko tutup, termasuk restoran Jepang dan pengecer pakaian linen British India. Yang pasti, Orchard Road sudah kehilangan kilaunya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads