alexametrics

Serangan Politik Donald Trump di Tengah Perayaan Hari Kemerdekaan AS

5 Juli 2020, 05:57:04 WIB

JawaPos.com – Amerika Serikat merayakan Hari Kemerdekaan pada Sabtu (4/7). Rangkaian perayaan telah dimulai sejak Jumat (3/7) dan dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Hanya saja, Trump justru memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan serangan terhadap lawan politik. Maklum saja, pada 3 November 2020 digelar pemilihan presiden AS dan Trump mencalonkan kembali.

Trump mencerca kelompok yang mencoba merobohkan patung-patung pemimpin Konfederasi dan tokoh sejarah AS lain. Trump juga menyebut pengunjuk rasa berusaha menghapus sejarah Amerika Serikat.

Pada Jumat (3/7), Trump berbicara di Mount Rushmore, yang terkenal dengan pahatan empat mantan presiden AS. Dia memperingatkan bahwa aksi unjuk rasa atas kesenjangan ras di kalangan masyarakat Amerika telah mengancam fondasi sistem politik AS.

“Jangan salah, revolusi budaya sayap kiri ini dirancang untuk menggulingkan revolusi Amerika. Anak-anak kita diajari di sekolah untuk membenci negara mereka sendiri,” kata Trump dalam rangkain acara peringatan Hari Kemerdekaan AS tersebut seperti dilansir Reuters.

Acara itu dipadati sekitar 7.500 orang yang banyak di antaranya tidak memakai masker dan melanggar imbauan pejabat kesehatan setempat untuk menghindari pertemuan besar guna mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Seperti diketahui, dalam kerusuhan nasional setelah kematian George Floyd, pengunjuk rasa di beberapa kota telah merusak patung-patung para jenderal Konfederasi yang memimpin pemberontakan terhadap pemerintah AS selama perang saudara pada 1861-1865. Para pengunjuk rasa dalam satu kesempatan gagal merobohkan patung Presiden AS Andrew Jackson yang terletak di luar Gedung Putih. Jackson dikenal karena kebijakan populisnya, memiliki budak dan membuat ribuan penduduk asli Amerika terusir dari tanah mereka.

“Massa yang marah mencoba merobohkan patung-patung pendiri kita, merusak tugu peringatan yang paling suci, dan membuat gelombang kejahatan dan kekerasan di kota-kota kita,” imbuh Trump.

Trump telah menentang usulan untuk mengganti nama pangkalan militer AS yang berasal dari nama salah satu jenderal Konfederasi. Dia menjanjikan hukuman keras bagi orang yang telah merusak patung.

Sebenarnya rangkaian cara di Mount Rushmore bukan merupakan kampanye resmi. Tetapi, pernyataan Trump menyentuh tema kampanye utama yang dimaksudkan untuk memperkuat basis politiknya menjelang pemilihan presiden pada 3 November mendatang.

“Ada fasisme paling kiri baru yang menuntut kesetiaan absolut. Jika Anda tidak berbicara bahasa, melakukan ritual, melafalkan mantra-mantra, dan mengikuti perintah-perintahnya maka Anda akan disensor, dibuang, dimasukkan dalam daftar hitam, dianiaya, dan dihukum. Tidak akan terjadi pada kita,” beber Trump.

Sementara itu, sejumlah penduduk asli Amerika yang berunjuk rasa ditangkap setelah memblokir jalan menuju Mount Rushmore di Dakota Selatan. Mereka mengkritik kunjungan Trump karena meningkatkan risiko penyebaran Covid-19 dan merayakan Hari Kemerdekaan AS di wilayah yang dianggap suci bagi mereka.

Acara itu diselenggarakan ketika tujuh negara bagian AS mencatat rekor jumlah kasus baru Covid-19 dan telah menjangkau lingkaran dalam Trump. Kimberly Guilfoyle, pejabat senior kampanye sekaligus pacar Donald Trump Jr, putra Trump, sebelum acara dinyatakan positif Covid-19 di Dakota Selatan. Sedangkan Trump Jr dinyatakan negatif.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Antara



Close Ads