JawaPos Radar

Pertama dalam Sejarah, Perempuan Saudi Dapat SIM

05/06/2018, 13:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Pertama dalam Sejarah, Perempuan Saudi Dapat SIM
Perempuan Arab Saudi mendapatkan SIM (New York Times)
Share this

JawaPos.com - Perempuan Saudi akhirnya bisa mendapatkan Surat Izin Mengemudi alias SIM. Seperti dilansir Gulfnews pada Selasa (5/6), Pemerintah Saudi telah memberikan 10 SIM pertama pada 10 orang perempuan yang menukar SIM internasional mereka dengan SIM khusus Arab Saudi.

Kantor berita Arab Saudi SPA mengatakan, penggantian SIM internasional tersebut dilakukan dengan mengganti SIM yang diakui oleh kerajaan. "Kelompok perempuan pertama hari ini menerima lisensi mengemudi Saudi mereka," kata kantor berita tersebut.

Langkah itu dilakukan karena di Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang tidak mengizinkan perempuan untuk mengemudi. Namun, mereka tidak menyebutkan secara pasti jumlah lisensi yang dikeluarkan.

Pertama dalam Sejarah, Perempuan Saudi Dapat SIM
Perempuan Arab Saudi mendapatkan SIM (AP)

"Proses pertukaran berlangsung di berbagai tempat di sekitar kerajaan, dan sebelum mendapatkannya, mereka tetap harus menjalani tes mengemudi," tulis SPA.

Menurut pernyataan dari Kementrian Informasi Saudi, sekitar 2.000 SIM diharapkan akan dikeluarkan untuk perempuan minggu depan. Video perempuan pertama yang akan mendapatkan SIM di ibu kota di Riyadh, diedarkan melalui media sosial.

Dilansir Al Jazeera pada Selasa (5/6), Saudi memang memiliki beberapa pembatasan paling ketat di dunia pada perempuan. Kebalikan dari aturan lama, keputusan kerajaan ditandatangani oleh Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud pada September 2017 menyatakan, perempuan akan diizinkan untuk mengemudi sesuai dengan hukum Islam.

Sebelum itu, Arab Saudi satu-satunya negara di dunia yang tidak memungkinkan perempuan mengemudi. Bulan lalu, sejumlah aktivis hak-hak perempuan, yang secara kukuh mengadvokasi hak untuk mengemudi, ditangkap dan dicap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

Mereka menghadapi hingga 20 tahun penjara jika terbukti bersalah. Penangkapan telah menimbulkan keraguan atas komitmen Riyadh untuk melakukan perubahan sebagai bagian yang disebut-sebut sebagai Visi Arab Saudi 2030.

(ina/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up