alexametrics

Situasi Pilu di Ekuador, Jenazah Covid-19 Bergelimpangan di Jalanan

5 April 2020, 13:47:25 WIB

JawaPos.com – Jalan-jalan kota Guayaquil di bagian barat Ekuador sepi dan memilukan. Hanya ada beberapa penduduk yang berani keluar rumah. Di sudut-sudut jalan beberapa jenazah bergeletakan begitu saja. Jenazah Covid-19 itu sudah tak tertampung untuk dimakamkan karena antrean pemakaman yang begitu panjang.

Pandemi virus Korona membebani layanan publik di kota terpadat di negara itu sampai titik kehancuran. Rumah sakit tidak memiliki tempat tidur tersisa untuk menerima pasien yang sakit, dan kamar mayat, kuburan dan rumah duka juga sudah kelebihan kapasitas.

Tidak ada tempat tersisa untuk meletakkan jenazah. Beberapa warga mengatakan mereka tidak punya pilihan selain menempatkan jenazah di luar seperti dilansir dari CNN, Minggu (5/4).

Tak ada data yang jelas berapa banyak dari orang yang meninggal sekarat karena Covid-19. Rumah sakit di Guayaquil kewalahan.

“Kami telah menunggu selama lima hari untuk memakamkan jenazah,” kata Fernando Espana dalam sebuah video yang diperoleh Reuters pada 30 Maret.

“Kami lelah menelepon 911 dan satu-satunya hal yang mereka katakan adalah menunggu, mereka bekerja untuk menyelesaikan ini,” lanjutnya.

Peti mati berisi mayat seseorang yang diduga meninggal karena Covid-19 terbungkus plastik dan ditutupi dengan kardus. Hanya diletakkan di luar blok apartemen keluarga di Guayaquil pada 2 April lalu. Jenazah itu juga sudah mulai menimbulkan bau.

“Ini bau dari jenazah yang tidak bisa lagi ditangani,” kata tetangga Espana, Glenda Larrea Vera dalam video yang sama.

“Dan kami juga memiliki tetangga yang sudah lanjut usia. Saya punya ibu saya yang berusia 80 tahun yang juga mengalami masalah pernapasan,” katanya.

Video CCTV dari minggu lalu yang diperoleh CNN menunjukkan pengendara sepeda motor meninggalkan jenazah di jalan. Beberapa jam kemudian, sekelompok orang, yang mengenakan jas hazmat khusus terlihat menjemput almarhum, kemudian pergi dengan kendaraan.

Dalam video lain yang diperoleh CNN, sekelompok orang mengeluarkan jenazah dari mobil. Dengan penutup wajah, mereka membungkus tubuh dengan terpal hitam.

Angka-angka nasional menunjukkan bahwa pemerintah Ekuador telah mengumpulkan lebih dari 300 mayat dari rumah-rumah di kota itu. Di sana ada 2,99 juta penduduk.

Kepala Satuan Tugas Militer Gabungan Krisis Virus Korona Ekuador Jorge Wated, dalam sebuah wawancara televisi mengatakan bahwa total kematian naik dari 30 orang yang meninggal per hari menjadi 150 jiwa selama tiga hari terakhir. Walikota Guayaquil, Cynthia Viteri putus asa meminta bantuan dari pemerintah nasional dalam sebuah video yang diposting ke akun Twitter-nya minggu lalu.

“Apa yang terjadi dalam sistem kesehatan kita? Jenazah tak diambil, dan justru ditinggal di trotoar, mereka jatuh di depan rumah sakit. Tidak ada yang mau mengambilnya,” katanya.

Ekuador melaporkan ada 3.368 kasus positif virus Korona yang dikonfirmasi dan 145 kematian di seluruh negeri. Tetapi beberapa warga prihatin bahwa kasus positif infeksi yang dikonfirmasi di lapangan lebih tinggi daripada apa yang dilaporkan oleh pemerintah Ekuador.

Presiden Lenin Moreno dalam pidatonya kepada negara itu Kamis menyerukan transparansi di semua tingkat pemerintahan mengenai jumlah korban jiwa. “Sangat penting untuk mengatakan yang sebenarnya. Jumlah kasus dan kematian,” kata Lenin.

Beberapa kontainer pun disulap menjadi kamar mayat sementara untuk menampung masuknya mayat, dan pihak berwenang mengatakan mereka berencana untuk menciptakan pemakaman khusus jenazah Covid-19.

Tetapi untuk saat ini, beberapa orang yang tinggal di Guayaquil tetap terjebak dalam mimpi buruk, tanpa ada solusi. Mereka masih meratapi orang yang mereka cintai tergeletak di pinggir jalan karena belum dimakamkan.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads