alexametrics

Buntut Teror di Jembatan London, Inggris Awasi 74 Mantan Napiter

Tangkap Lagi Seorang yang Rencanakan Teror
3 Desember 2019, 14:05:13 WIB

JawaPos.com – Pemerintah Inggris terus merespons teror penusukan oleh mantan narapidana teroris (napiter) Usman Khan. Minggu (1/12) Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan evaluasi terhadap 74 napiter yang bebas lebih awal. Beberapa pihak menganggap respons pemerintah itu sebagai manuver kampanye.

Johnson menjelaskan, semua mantan napiter di Inggris kembali diperiksa untuk mengetahui kondisi terbaru. Selain itu, pihaknya menggeledah dua rumah yang dirasa punya hubungan dengan Khan. ”Kami sudah melakukan banyak hal dalam 48 jam (pasca serangan teror, Red),” ungkapnya kepada BBC.

Baca juga: Teror Kembali Terjadi, Inggris Evaluasi Sistem Rehabilitasi Napiter

Keputusan pemeriksaan mantan napiter itu membawa hasil. Kepolisian West Midlands menangkap seorang pria yang berusia 34 tahun atas dugaan rencana aksi terorisme pada Minggu. Pria itu merupakan rekan Usman Khan dalam kasus rencana pengeboman Bursa Efek London pada 2012. Namun, aparat menyimpulkan bahwa aksi Khan dan rencana pria tersebut tak punya hubungan.

Johnson berjanji memperketat sistem hukuman bagi napiter. Menurut dia, pelaku kasus kriminal berat tak seharusnya mendapatkan keringanan. ”Selagi saya menjadi perdana menteri, saya akan pastikan bahwa pelaku kekerasan, kejahatan seksual, dan terorisme yang berat tak akan dilepaskan lebih awal,” tegasnya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Menteri Kehakiman Inggris Robert Buckland. Menurut dia, menangani pelaku kejahatan memang tak mudah. Ada beberapa penjahat yang memang sulit atau mustahil untuk melalui rehabilitasi.

”Saya sudah bertemu dengan berbagai macam mantan narapidana. Pertanyaannya, bagaimana mengenali mana yang bisa (direhabilitasi, Red) dan mana yang tidak,” ungkapnya seperti yang dilansir Agence France-Presse.

Pernyataan itu langsung diprotes lawan politik Partai Konservatif. Beberapa merasa bahwa petahana berusaha menggiring opini masyarakat menjelang pemilu 12 Desember. Phillip Lee, mantan menteri kehakiman, menilai kabinet Johnson menebar rasa takut kepada masyarakat dengan memberikan argumen menyesatkan.

”Saya tahu bahwa Johnson menggunakan pedoman Trump,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pemerintah seharusnya melakukan investasi dalam infrastruktur rehabilitasi pelaku kejahatan. Pasalnya, pemerintah sudah memangkas jumlah sipir dan petugas masa percobaan.

”Kepolisian, pengadilan, dan lembaga masa percobaan harus bekerja maksimal jika Anda ingin mengurangi tindakan kriminal,” ucap dia.

Kritik juga datang dari keluarga korban Jack Merritt. David, sang ayah, mengatakan, mendiang anaknya percaya terhadap penebusan dosa dan rehabilitasi. Bukan pembalasan dendam. Karena itu, dia berharap tindakan Khan tidak memengaruhi kebijakan pemerintah.

David juga mengkritisi pemerintah yang tidak fokus dalam menguatkan sistem rehabilitasi. ”Bukan kebijakan ringan yang harus disalahkan, melainkan penghancuran terhadap layanan masa percobaan,” ucap dia.

Sementara itu, kerabat korban teror penusukan London Bridge mengadakan doa bersama di dua tempat sekaligus. Yakni, London dan Cambridge. Mereka mengenang Jack dan Saskia Jones yang menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut. Identitas Jones baru diungkap Minggu lalu. Jones merupakan relawan program rehabilitasi Learning Together.

PENANGANAN TERSANGKA TERORIS INGGRIS
Tahun | Ditangkap | Didakwa
2019 | 266 | 63
2018 | 351 | 92
2017 | 379 | 105

Sumber: Kementerian Dalam Negeri Inggris

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c11/dos)



Close Ads