alexametrics

Kastil Shuri, Situs Bersejarah yang Hilang Dilalap Api

3 November 2019, 18:42:58 WIB

Kastil Shuri adalah situs Warisan Dunia UNESCO yang baru saja habis terbakar. Kini pemerintah Jepang kelabakan untuk mencari cara mengamankan aset budaya mereka dari risiko tak terduga. Terutama si jago merah.

MOCHAMAD SALSABYL ADN, Jawa Pos

HATI Kurayoshi Takara tersentak Kamis lalu (31/10). Pukul 04.30 dia baru saja mendengar kabar dari kawan lama. Hubungan mereka berjalan sejak tiga dekade lalu. Lebih tepatnya saat mereka terlibat dalam satu tim restorasi Kastil Shuri 1989 silam.

Menurut sang kawan, bangunan bersejarah yang berhasil mereka dirikan kembali sedang terbakar. Dia langsung membuka jendela kamar dan melihat ke arah bukit tempat singgasana Kekaisaran Ryukyu bertengger. Cahaya merah terlihat jelas dari rumahnya di Kota Naha.

”Saya masih belum bisa menerima ini sebagai kenyataan,” ungkap dia kepada Mainichi Shimbun.

Pria 72 tahun itu tahu benar susahnya membangun kembali kompleks keluarga royal Sho, penguasa Ryukyu. Profesor emeritus dari University of the Ryukyus tersebut terlibat dalam upaya restorasi sejak awal. Tim restorasi membutuhkan total 30 tahun dari merancang hingga membangun Kastil Shuri.

Sudah banyak dokumen mengenai desain gedung yang hilang dalam Perang Dunia Kedua. Mereka susah payah mencari petunjuk untuk membuat replika Balai Seiden, bangunan utama, dan balai lainnya. Mereka ingin itu terlihat seasli-aslinya. Karena itu juga, mereka bersikeras menggunakan kayu untuk sebagian besar struktur bangunan.”Ini bukan hanya soal bangunan. Kami melakukan rekonstruksi sampai ke detail peralatan di dalamnya,” ungkap sejarawan itu.

Dalam 10 jam, upaya Takara dan kawan-kawannya terbuang sia-sia. Pemadam kebakaran tak bisa mendekat karena suhu yang tinggi. Apalagi, masuk ke balai-balai utama yang kini rata dengan bumi. Sebanyak 400 artefak dan dokumen sejarah mengenai keluarga Sho diduga musnah. Barang antik seperti lukisan, tulisan, kain, sampai barang pecah belah itu disimpan di Balai Seiden.

Okinawa Churashima Foundation juga tak yakin bahwa 1.100 artefak lainnya selamat. Sisa bukti sejarah Ryukyu memang disimpan di dua ruang anti-api. Namun, ruangan itu belum bisa diakses karena bentuk yang berubah. ”Usia barang-barang di sana bisa mencapai 200–300 tahun. Saya harap mereka terselamatkan,” ungkap Kepala Okinawa Churashima Foundation Yoshihiro Hanashiro.

Yayasan pengelola puri itu punya rencana untuk situs yang menarik jutaan turis per tahun tersebut. Februari, mereka baru saja merenovasi taman, gerbang, dan beberapa bangunan. Di antaranya, balai pelayan perempuan kekaisaran dan tempat ritual kenaikan takhta.

Minggu (27/10) mereka baru memulai Festival Kastil Shuri. Festival tahunan itu seharusnya berjalan hingga hari ini (3/11). Jumat dini hari 70 kru festival baru saja selesai memasang lampu dan perlengkapan lainnya.

Namun, mereka bersaksi bahwa tak ada api atau lampu yang menyala saat mereka rampung. Kesaksian itu juga didukung pernyataan salah seorang petugas keamanan. Petugas tersebut melakukan patroli satu jam sebelum alarm kebakaran menyala.

Kompleks Kastil Shuri mempunyai alat pemadam portabel, hidran, dan alarm. Namun, mereka tak punya alat pemancar air. Karena itu, api tak bisa dipadamkan secara otomatis. Hal tersebut pula yang membuat api di dini hari itu menciptakan kebakaran dahsyat.

Jumat lalu perwakilan dari berbagai situs bersejarah dan kuil di Jepang mengadakan pertemuan darurat di Kyoto. Mereka mencari solusi terbaru untuk mencegah bangunan mereka mengikuti jejak Kastil Shuri.

”Kita harus waspada. Karena listrik dan api digunakan untuk berbagai kegiatan di sebuah kastil,” ujar Noboyuki Kitamura, penanggung jawab Kastil Nijo, Kyoto, kepada Japan Times.

Saat ini para pengelola warisan budaya itu putus asa menunggu kabar dari pihak berwenang. Mereka berharap aparat bisa menjelaskan penyebab kebakaran di Bukit Shuri. Jawaban tersebut jelas membuat langkah pencegahan mereka lebih mudah.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos



Close Ads