JawaPos Radar

Ledakan Bom Kembali Terjadi di Filipina, Seorang Tewas, 15 Luka

03/09/2018, 12:33 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
bom filipina, filipina ledakan bom, teroris filipina
Suasana pasca ledakan di sebuah kafe yang terletak Filipina selatan, Minggu (2/9). (Channel News Asia/@philredcross/Twitter)
Share this image

JawaPos.com - Ledakan bom kembali terjadi di Filipina. Kali ini ledakan yang terjadi di sebuah kafe internet yang terletak Filipina selatan pada Minggu (2/9) menewaskan satu orang dan melukai 15 lainnya. Pihak berwenang mengatakan bahwa ledakan tersebut terjadi untuk kedua kalinya di kota yang sama dalam beberapa hari terakhir.

Ledakan yang terjadi di Isulan ini letaknya tidak jauh dari tempat sebuah bom di bawah sepeda motor yang meledak 28 Agustus lalu. Bom rakitan tersebut ketika itu menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya. Serangan-serangan tersebut merupakan yang terbaru di selatan kepulauan yang penduduknya mayoritas beragama Katolik.

Militan berkedok Negara Islam diketahui telah melakukan perlawanan selama beberapa dekade. Sejauh ini tidak ada klaim pertanggungjawaban atas pengeboman yang terjadi pada Minggu (3/9) tersebut. Namun pihak berwenang mencurigai Bangsamoro Islamic Fight Fighters (BIFF) yang memiliki keterkaitan dengan Negara Islam.

"Itu BIFF yang bertanggung jawab. Kelompok ini keluar untuk menabur kekacauan," kata Jenderal Angkatan Darat Cirilito Sobejana seperti dilansir Channel News Asia.

Kantor wali kota Isulan dan militer menyebut bahwa satu orang tewas dalam pengeboman itu dan 15 orang lainnya terluka. Sementara empat di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Ledakan tersebut menyusul pemeritahan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang mulai memberlakukan Undang-Undang (UU) untuk menciptakan otonomi yang lebih besar. Hal ini juga ditujukan bagi minoritas muslim di selatan yang diharapkan dapat membantu mengakhiri konflik.

Menurut hitungan pemerintah, ada beberapa kelompok bersenjata aktif yang siap melawan pasukan pemerintah di selatan negara tersebut. Sejauh ini pemberontakan berlangsung selama beberpa dekade dan telah merenggut lebih dari 100 ribu jiwa. Duterte menempatkan Filipina selatan di bawah kekuasaan militer hingga akhir tahun ini setelah militan pro Negara Islam menguasai kota Marawi tahun lalu.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up