alexametrics

Teror Kembali Terjadi, Inggris Evaluasi Sistem Rehabilitasi Napiter

2 Desember 2019, 10:15:28 WIB

JawaPos.com – Pemerintah Inggris tengah merombak sistem rehabilitasi narapidana terorisme (napiter). Mereka tak ingin lagi kecolongan seperti kasus penusukan masal yang dilakukan Usman Khan, mantan napiter yang baru bebas, di Jembatan London akhir pekan lalu.

Kementerian Kehakiman Inggris baru saja mengumumkan peninjauan kebijakan bebas bersyarat untuk kejahatan terorisme. Mereka berjanji memperketat pengawasa

“Kami juga akan meningkatkan frekuensi pertemuan dengan para napi itu,” tulis lembaga tersebut menurut Financial Times.

Saat ini ada sekitar 70 napiter yang bebas bersyarat seperti Usman Khan. Belum lagi puluhan napiter yang sedang menunggu pembebasan bersyarat. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyatakan, pembebasan dini sudah seharusnya dihapus.

Usman Khan merupakan pengingat bagi Inggris tentang penanganan napiter. Pada 2012, pria berusia 28 tahun itu didakwa atas rencana pengeboman bursa efek London. Dia dijatuhi hukuman 16 tahun dengan status imprisonment for public protection (IPP). Artinya, hukuman Usman Khan bisa diperpanjang untuk menjamin keamanan masyarakat.

Namun, pemerintah Inggris sudah menghapus kebijakan IPP. Keputusan itu membuat hampir semua napiter diperlakukan seperti tahanan lainnya. Di Inggris, hampir semua tindakan kriminal dibebaskan ketika sudah mengalami setengah hukumannya.

“Terdakwa teroris seharusnya menjalani minimal 14 tahun penjara. Beberapa bahkan seharusnya tak dibebaskan sama sekali,” ujar Johnson saat mengunjungi lokasi penusukan pada Sabtu (30/11) lalu.

Usman Khan (WEST MIDLANDS POLICE / AFP)

Khan dibebaskan pada Desember 2018. Wakil Komisioner Kepolisian London Neil Basu mengatakan bahwa Khan sudah memenuhi syarat. Dia pun keluar dari penjara dengan gelang pelacak di pergelangan kaki.

Pada hari penyerangan, pria yang tinggal di Stafford itu menghadiri sesi learning together di Fishmonger’s Hall. Learning together adalah program rehabilitasi mantan narapidana. Di sana dia menikam Jack Merrit, koordinator kursus, hingga tewas. Khan terus menebaskan pisaunya sampai ke Jembatan London.

Korban meninggal lainnya merupakan seorang perempuan. Namun, otoritas belum mengungkap identitasnya. Kepala National Health Service Inggris Simon Stevens menyatakan, ada tiga korban yang dirawat di rumah sakit. Khan sendiri tewas diterjang peluru aparat pada hari penyerangan.

Partai Konservatif dan Buruh memanfaatkan aksi Usman Khan untuk menyerang lawan politik. Yvette Cooper, menteri dalam negeri bayangan, mempertanyakan keputusan pemerintah membebaskan Khan tanpa ada evaluasi petugas pembebasan bersyarat.

Namun, Menteri Dalam Negeri Priti Patel mengatakan bahwa itu justru kesalahan Buruh. ’’Kebijakan yang kalian buat 2008 membuat teroris bisa dibebaskan setelah menjalani setengah dari hukuman,’’ ungkapnya menurut BBC.

RANGKAIAN TEROR DI INGGRIS
November 2019
Usman Khan melakukan teror penusukan di Fishmongers’ Hall, lalu melanjutkan aksinya ke Jembatan London.

Juni 2017
Tiga pria menabrakkan kendaraan ke trotoar di Jembatan London, lalu melakukan teror penusukan. Delapan orang tewas.

Mei 2017
Teror bom di konser Ariana Grande, Manchester, menewaskan 22 orang.

Maret 2017
Khalid Masood menabrakkan mobil ke trotoar kompleks Istana Westminster dan menewaskan lima orang. Dia lalu keluar dan menusuk seorang petugas kepolisian.

Sumber: AFP

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c19/sof)



Close Ads