alexametrics

Pasar Satwa Liar di Wuhan Tetap Buka, Bisa Menjadi Bom Waktu

2 April 2020, 02:02:00 WIB

JawaPos.com – Dunia dibuat kewalahan terkait wabah virus Korona yang bersumber dari Wuhan, Tiongkok. Pasar hewan liar di Wuhan selama ini disebut sebagai biang musibah. Para ahli memperingatkan pasar basah tempat hewan disembelih di depan pembeli, adalah bom waktu dan dapat menyebabkan wabah. Namun, hingga kini pasar hewan liar di sana masih beroperasi melayani pembeli.

Penyakit ini diperkirakan pertama kali melompat ke manusia dari pasar basah di Wuhan, Tiongkok, yang menjual hewan seperti kelelawar, ayam, dan reptil. Virus Korona lain bernama SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang muncul pada 2002-2003 dan menyebabkan kematian ratusan orang juga diyakini berasal dari pasar basah seperti dilansir dari Express, Rabu (1/4).

Sejumlah negara di Asia termasuk Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, memiliki budaya yang dianggap normal untuk menjual hewan eksotik untuk konsumsi manusia di pasar basah.

Sementara itu, di Chatuchak, Bangkok, Thailand, berbagai hewan liar termasuk kucing liar Afrika, kura-kura dan ular masih terus dijual meski pandemi Coronavirus mewabah. Monyet, anjing, kucing, dan kelelawar juga diperdagangkan.

Pedagang sering menggunakan pisau tunggal untuk menyembelih semua hewan, terlepas dari kontaminasi dari darah atau feses, sebelum menjual bagian tubuh. Ada juga kulit harimau, cakar beruang, dan sisik yang dianggap sebagai barang berharga dalam pengobatan Tiongkok.

Ahli Zoological Society of London Profesor Andrew Cunningham, telah menyerukan larangan internasional terhadap pasar basah dan menegaskan spesies yang tercampur jauh lebih rentan untuk menularkan virus secara silang satu sama lain. Covid-19 dan SARS disebutnya berasal dari kelelawar.

“Ketika hewan hidup dari berbagai spesies disatukan dan ditahan dalam kondisi yang penuh sesak dan tidak higienis, kemungkinan seekor hewan akan membawa virus zoonosis yang berpotensi ditularkan dari hewan ke manusia,” jelasnya.

Perdagangan dan perputaran uang di sana diyakini bernilai sekitar GBP 58 juta per tahun. Aktivis kelompok anti perdagangan manusia, Steve Gagster, yang berpusat di Bangkok, mengatakan bahwa wabah ini adalah hukuman bagi Wuhan lantaran sebagai balas dendam oleh alam.

“Ini semacam balasan oleh alam,” katanya. “Cara untuk mencegah wabah lebih lanjut adalah dengan menghentikan perdagangan hewan liar. Tiongkok telah memberlakukan larangan, tetapi ini harus permanen karena merupakan importir terbesar satwa liar di dunia,” jelasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads