alexametrics

Belajar dari Singapura, Tenaga Medis Terpapar Covid-19 Sangat Sedikit

2 April 2020, 03:03:50 WIB

JawaPos.com – Tenaga medis seperti dokter dan perawat adalah pejuang yang berada di garda terdepan dalam melawan wabah Covid-19. Di Indonesia dan di sejumlah negara, para pejuang kesehatan sudah banyak yang berjatuhan, terinfeksi virus Korona, kelelahan, hingga wafat.

Semua negara sepertinya harus berkaca dari sistem manajemen kesehatan di Singapura. Tenaga medis di sana, begitu minim risiko. Sangat sedikit jumlah tenaga medis yang tertular virus Korona.

Pengalaman Singapura dianggap sebagai alasan semua negara untuk tetap membangun optimisme. Negara tersebut telah melaporkan 1.000 kasus infeksi seperti dilansir dari Strait Times, Rabu (1/4). Dan semuanya dirawat di rumah sakit. Namun, hanya segelintir profesional perawatan kesehatannya yang terinfeksi seperti dilaporkan oleh Asia One, Rabu (1/4).

Direktur Penyakit Menular di Kementerian Kesehatan Vernon Lee, menjelaskan kasus infeksi yang terjadi pada tenaga medis, terjadi di luar jam perawatan kesehatan. Para ahli berpendapat bahwa ini lebih dari sekadar keberuntungan. Ada sebuah kasus di mana 41 petugas kesehatan tertular virus Korona di rumah sakit Singapura namun bisa selamat dari infeksi.

Para petugas medis menangani pasien yang datang dalam jarak dua meter. Sebuah prosedur yang melibatkan tabung yang dimasukkan ke dalam trakea pasien. Prosedur ini dipandang sangat berbahaya bagi petugas kesehatan karena menghasilkan aerosol dan pasien cenderung batuk.
Para petugas medis dilengkapi APD (Alat Pelindung Diri) campuran masker bedah standar dan masker N95 sebagai standar karena menyaring 95 persen partikel di udara.

Kesimpulannya, yang diterbitkan dalam The Annals of Internal Medicine, bahwa tidak ada petugas perawatan kesehatan dalam situasi ini yang tertular infeksi. Hal itu menunjukkan bahwa masker bedah, kebersihan tangan, dan prosedur standar lainnya melindungi mereka dari infeksi.

Ahli bedah dan penulis, Atul Gawande, menyebutkan kasus ini dalam sebuah artikel untuk The New Yorker tentang bagaimana petugas kesehatan bisa terus merawat pasien tanpa harus menjadi pasien. Dengan kata lain, ada banyak yang bisa dilakukan untuk menjaga jarak sosial dan jaga kebersihan tangan.

Sayangnya masalah APD menjadi persoalan pelik di semua negara, termasuk Indonesia. Dengan persediaan yang menipis di banyak negara, para ahli mengatakan semakin penting bahwa negara berbagi pengetahuan dan sumber daya.

Tiongkok telah menyumbangkan alat pelindung diri ke sejumlah negara termasuk Filipina, Pakistan, dan negara-negara Eropa. Pria terkaya Tiongkok, Jack Ma juga menyumbangkan 1,8 juta masker, 210 ribu kit uji Covid-19 dan 36 ribu lembar pakaian pelindung ke 10 negara di Asia.

Pakar penyakit menular Leong Hoe Nam mengatakan bahwa pengalaman SARS (sindrom pernapasan akut yang parah) pada tahun 2003 telah membuat negara-negara Asia jauh lebih siap menghadapi Covid-19, sementara negara-negara Barat tidak sama siapnya, karenanya tidak memiliki peralatan pelindung yang memadai.

Dia mencontohkan bagaimana sekitar 2 ribu pekerja perawatan kesehatan jatuh sakit di Tiongkok pada awal wabah karena pekerja pada awalnya tidak memiliki alat pelindung. Tren berbalik ketika peralatan tersedia.

“Setelah pertahanan naik, ada sangat sedikit petugas kesehatan yang jatuh sakit di tempat kerja. Sebaliknya, mereka jatuh sakit karena kontak dengan orang sakit di luar tempat kerja,” katanya.

Saran Kementerian Kesehatan Singapura paling penting adalah lakukan kebersihan yang baik dan cuci tangan secara teratur.

Singapura dianggap sebagai contoh untuk ditiru. Meski, negara ini tetap bergulat dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19, namun sistem perawatan kesehatannya terus berjalan dengan lancar. Dokter di Singapura mengatakan sudah mempersiapkan pandemi sejak SARS. Selama wabah SARS dulu, petugas kesehatan menyumbang 41 persen dari 238 infeksi di Singapura.

Akibatnya, rumah sakit-rumah sakit beralih ke mode perencanaan kontingensi sejak awal wabah Coronavirus. Lalu memberi tahu staf untuk menunda cuti dan rencana perjalanan setelah kasus-kasus pertamanya muncul. Maka tak heran, Singapura jauh lebih siap melawan Covid-19.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads