JawaPos Radar

Waduh, Pakaian Dalam 6 ABK yang Disandera Milisi Ikut Dirampas

02/04/2018, 15:42 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Waduh, Pakaian Dalam 6 ABK yang Disandera Milisi Ikut Dirampas
Suasana haru saat para ABK yang disandera milisi Benghazi berkumpul dengan keluarganya (Miftahul Hayat/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Enam orang anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang disandera oleh kelompol milisi di Benghazi mengaku, milisi tersebut tidak memperlakukan mereka dengan kasar. Hal itu disampaikan perwakilan ABK, Ronny William, usai serah terima ABK dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) kepada keluarga pada Senin (2/4).

Enam ABK yang disandera antara lain Ronny William asal Jakarta; Joko Riadi asal Blitar; Haryanto, Saefuddin, Waskita Ibi Patria, Muhammad Abudi asal Tegal. Mereka disandera sejak 23 September 2017 oleh milisi Benghazi di Libya.

Ronny mengaku, pada saat awal penyanderaan 23 September 2017, ia dan kelima kawannya merasa ketakutan. "Semua barang kami dirampas, makanan, uang, barang pribadi, barang-barang yang ada di kapal, bahkan pakaian dalam kami juga dirampas, kami jelas pada waktu itu ketakutan," kata Ronny menjelaskan.

Keenam ABK yang menaiki kapal Salvatur itu dipindahkan ke sebuah pulau hingga dua kali. Namun, ketika para milisi tahu bahwa ABK ini berasal dari Indonesia, mereka tidak menyerang atau menyiksa sama sekali.

"Awalnya, mereka pikir kami dari Filipina, lalu setelah tahu bahwa kami dari Indonesia, mereka baik, walaupun penjagaan tetap ketat terhadap kami," kata pria 44 tahun ini.

Bahkan, ketika makanan datang telat dari pihak kapal, para milisi memberikan makanan kepada ABK. "Kami memancing beberapa ikan, lalu ikan tersebut bisa dijual kembali oleh mereka, sebagian kami masak untuk kami santap," paparnya.

Seringkali para ABK melihat secara langsung perang antara Pemerintah Libya dan para milisi yang berjarak hanya 2 KM dari pelabuhan yang mereka tempati.

Ronny juga menceritakan, ada beberapa peluru yang mencapai pelabuhan. Ia melihat peluru-peluru itu terbang di depan mata mereka.

"Saya sangat berterima kasih dengan Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Luar Negeri karena sudah mengupayakan pembebasan kami," kata Ronny.

Keluarga ABK juga hadir dalam serah terima ABK kepada keluarga. Suasana haru jelas menyelimuti ruangan Kantin Diplomasi Kemlu pada Senin, (2/4).

Muslihah, istri dari salah satu ABK juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah. "Terima kasih kepada Ibu Menteri, KBRI, kami sangat senang keluarga kami selamat," kata Muslihah sambil menggendong anaknya yang masih balita, lalu tangisannya langsung pecah tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Berkat kerjasama antara Kemlu, Badan Intelijen Negara, dan tentunya KBRI di Tripoli, akhirnya pada tanggal 27 Maret 2018 pada pukul 12.30 waktu setempat, keenam ABK dibebaskan tanpa uang pembebasan apapun.

(ina/iml/trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up