JawaPos Radar

Alhamdullilah, Enam ABK yang Disandera Milisi Benghazi Dibebaskan

02/04/2018, 14:53 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Alhamdullilah, Enam ABK yang Disandera Milisi Benghazi Dibebaskan
Suasana haru saat Menlu Retno bertemu dengan para ABK yang disandera dengan keluarganya (Miftahul Hayat/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Enam anak buah kapal (ABK) yang disandera oleh milisi di Benghazi akhirnya bebas setelah enam bulan terperangkap di sebuah kapal kecil di pelabuhan tempat milisi itu tinggal.

Enam ABK itu adalah Ronny William asal Jakarta; Joko Riadi asal Blitar; Haryanto, Saefuddin, Waskita Ibi Patria, Muhammad Abudi asal Tegal. Mereka disandera sejak 23 September 2017 oleh milisi Benghazi di Libya.

Lalu, pada tanggal 27 Maret pukul 12.30 waktu setempat enam ABK sudah bisa diserahkan ke KBRI di Tripoli.

Alhamdullilah, Enam ABK yang Disandera Milisi Benghazi Dibebaskan
Menlu Retno bertemu dengan para ABK yang disandera dengan keluarganya (Verryana Imel Novia/JawaPos.com)

"Atas kerja sama Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan tentunya KBRI di Tripoli, maka pada 27 Maret 2018 pukul 12.30 waktu setempat enam WNI diserahkan ke kami melalui tim pembebasan gabungan," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat konferensi pers di Gedung Kantin Diplomasi, Senin (2/4).

Pada Senin (2/4), para ABK dipertemukan dengan keluarga sekaligus penandatanganan antara pihak Kemlu dan keluarga bahwa Kemlu secara resmi telah menyerahkan ABK kepada keluarga.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Jokowi, Ibu Menteri dan protokol, dan juga KBRI Tripoli. Kami mengucap syukur atas upaya dari pemerintah," kata salah satu ABK yang disandera, Ronny William dengan sedikit gemetar menahan tangis.

Sebelumnya, para ABK ditahan oleh kelompok milisi Benghazi pada saat mereka sedang berlayar untuk memancing dengan Kapal Salvatore 6. Kapal tersebut berisi enam ABK dan satu kapten kapal asal Italia.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, Kapal Salvatore 6 pada waktu itu hanya berjarak 72 mil dari tempat milisi tersebut bersembunyi. "Seluruh isi kapal dirampas karena milisi sendiri juga butuh barang-barang itu," katanya.

Sekitar 28-29 September 2017, terang Iqbal, pihaknya baru ada mendapat info ada penyanderaan. Kita tidak bisa berkomunikasi dengan ABK karena semua dirampas.

"Kemudian, kami upayakan berkomunikasi dengan milisi yang ada di Benghazi dan Pemerintah Libya yang ada di Tripoli. Kami berkomunikasi juga dengan pemilik Kapal Salvatore 6," papar Iqbal.

Iqbal menambhakan, kendala bukan hanya di keamanan tetapi juga di politik. Sebab kapal Salvatore 6 benderanya adalah bendera Malta sementara Malta dengan kelompok Benghazi hubungannya secara politik tidak baik.

Menurutnya, tidak ada uang pembebasan apa pun yang dibayarkan Pemerintah Indonesia kepada milisi Benghazi. Upaya-upaya pendekatan yang menekankan kedekatan Indonesia dengan Libya menjadi hal yang utama dilakukan untuk pembebasan.

"Kami katakan Indonesia tidak berpihak dengan konflik yang ada di Libya," kata Iqbal.

Perlu diketahui, kelompok bersenjata yang menguasai Benghazi adalah kelompok anti pemerintahan pusat Libya di Tripoli. Pada tahun 2011 pada saat revolusi yang menjatuhkan Qadafi, daerah ini dikuasai oleh kelompok bersenjata yang sekarang menguasai Benghazi.

Pada tahun 2014, kota ini sempat diambil alih oleh ISIS sampai 2015. Pada tahun 2015 ISIS dihalau oleh kelompok ini sehingga perang antara ISIS dengan kelompok Benghazi ini masih berlangsung sampai akhir 2017.

(ce1/iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up