Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Mei 2025 | 04.53 WIB

Sugiono di KTT ASEAN: Hentikan Kekerasan, Bantu Myanmar Pulih

Menlu-menlu ASEAN melakukan pertemuan dalam rangkaian KTT ASEAN ke 46 di Kuala Lumpur guna membahas mengenai penyelesaiaan konflik di internal Myanmar. (Kemlu) - Image

Menlu-menlu ASEAN melakukan pertemuan dalam rangkaian KTT ASEAN ke 46 di Kuala Lumpur guna membahas mengenai penyelesaiaan konflik di internal Myanmar. (Kemlu)

JawaPos.com – Krisis Myanmar kembali menjadi sorotan utama dalam rangkaian KTT ke-46 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan Extended Informal Consultation on the Implementation of the Five-Point Consensus (5PC), Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk mendorong penyelesaian konflik Myanmar secara damai.

“Implementasi penuh 5PC ASEAN dengan berfokus pada menghentikan kekerasan, memperluas bantuan kemanusiaan, dan memastikan dialog inklusif yang melibatkan semua pemangku kepentingan di Myanmar,” tegas Sugiono dalam keterangannya, Minggu (25/5/2025).

Pertemuan yang diadakan pada 24 Mei di Kuala Lumpur Convention Center ini mempertemukan para menlu ASEAN dan utusan khusus Myanmar guna membahas langkah-langkah konkret mengatasi krisis berkepanjangan di negara tersebut. Sugiono menekankan bahwa stabilitas kawasan hanya bisa tercapai bila ASEAN bersatu dan bertindak berdasarkan prinsip konsensus serta solidaritas.

“Kekuatan ASEAN terletak pada kesatuannya. Dalam menghadapi krisis Myanmar, kita harus berbicara dengan satu suara, dan bertindak dengan satu tujuan untuk mendorong implementasi penuh 5PC,” ujarnya.

Sugiono juga menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai inisiatif Malaysia sebagai Ketua ASEAN tahun ini dalam memfasilitasi penyelesaian konflik internal Myanmar. Indonesia, lanjutnya, siap terus berkontribusi aktif dalam pemulihan demokrasi dan stabilitas di negara tersebut.

Seperti diketahui, Myanmar masih diguncang konflik usai kudeta militer yang terjadi empat tahun lalu. Investigasi BBC mengungkap bahwa saat ini junta militer hanya menguasai kurang dari seperempat wilayah negara. Sebanyak 42 persen wilayah lainnya dikuasai pasukan etnis dan kelompok perlawanan, sementara sisanya menjadi arena perebutan kekuasaan.

Situasi semakin memprihatinkan setelah gempa dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Maret 2025. Meski ribuan rakyatnya terdampak, junta militer membatasi upaya bantuan luar. Ironisnya, alih-alih membantu korban, militer malah terus melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah, termasuk menyerang sekolah, biara, gereja, dan rumah sakit.

Dalam salah satu serangan paling mematikan, lebih dari 170 orang tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Situasi ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang kini menjadi fokus desakan ASEAN untuk segera dihentikan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore