Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Agustus 2023 | 17.00 WIB

Jepang Buang Air Limbah PLTN ke Laut, PM Fumio Kishida Yakinkan Fukushima Aman dan Ikut Makan Sashimi

PICU KONTROVERSI: Kawasan penyimpanan limbah olahan di PLTN Fukushima (24/8). Pada hari itu pula, Jepang mulai membuang limbah PLTN tersebut ke Pasifik. - Image

PICU KONTROVERSI: Kawasan penyimpanan limbah olahan di PLTN Fukushima (24/8). Pada hari itu pula, Jepang mulai membuang limbah PLTN tersebut ke Pasifik.

JawaPos.com – "Ini sangat enak." Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida melontarkan pujian tersebut ketika menyantap sashimi bersama tiga menteri di jajaran kabinetnya kemarin (30/8).

Sashimi adalah makanan khas Jepang berupa makanan laut segar yang dimakan dalam keadaan mentah bersama kecap asin, wasabi, dan lainnya.

Yang dimakan Kishida bukan ikan biasa. Melainkan ikan yang ditangkap di perairan Fukushima. Begitu pula daging babi rebus, buah-buahan, nasi, dan sayuran yang disajikan hari itu. Semuanya berasal dari wilayah Fukushima. Kishida meminta penonton videonya untuk menikmati makanan laut Jepang yang aman dan lezat.

Video Kishida itu diunggah di akun media sosial kantor PM Jepang. Unggahan tersebut ditujukan untuk mempromosikan produk-produk dari area Fukushima setelah Tiongkok melarang impor semua hasil laut dari Jepang. Larangan itu dikeluarkan sebagai imbas pembuangan air limbah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik sejak 24 Agustus.

Pemerintah Jepang juga merencanakan paket bantuan keuangan untuk industri perikanan sekaligus membantu menemukan pasar ekspor baru. Selama ini Tiongkok adalah pasar ekspor terbesar Jepang. Karena itu, larangan impor produk laut yang diterapkan Beijing sangat berdampak. Jepang telah menuntut Tiongkok untuk mencabut larangan impor tersebut dan memperingatkan bahwa mereka akan mengajukan keluhan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Pada 2011, Jepang mengalami salah satu bencana nuklir terburuk di dunia setelah gempa 9–9,1 magnitudo mengguncang Semenanjung Oshika di wilayah Tohoku dan memicu tsunami. Saat itu terjadi kebocoran reaktor nuklir. Lebih dari 2.300 orang dilaporkan mengalami dampak tidak langsung dari radiasi nuklir tersebut. Saat itu industri perikanan Jepang mengalami kelumpuhan karena orang-orang takut membeli ikan yang terdampak radiasi.

PENCINTA LINGKUNGAN: Aktivis lingkungan membentangkan poster-poster kecaman kepada pemerintah Jepang di Seoul, Korsel.

Situasi yang sama ditakutkan terjadi lagi setelah pelepasan air limbah PLTN Fukushima Daiichi ke laut pekan lalu. Bahkan, sebelum pembuangan air limbah, banyak pelaku industri perikanan di Jepang yang khawatir dampaknya terhadap reputasi makanan laut negara tersebut di dalam dan luar negeri.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang memberi kepastian bahwa air yang dibuang aman tetap tidak mampu membuat situasi terkendali.

Respons Indonesia

Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten Indra Gunawan mengatakan, air olahan yang dibuang ke laut itu mengandung tritium. Laporan IAEA menyebutkan bahwa pelepasan treated water tersebut tidak memiliki dampak radiologis bagi manusia dan lingkungan.

"(Statusnya aman) selama pihak pengelola PLTN Fukushima Daiichi dapat memastikan bahwa kandungan tritium berada di bawah batas yang telah ditetapkan,’’ jelasnya di Jakarta kemarin (30/8). (sha/wan/c14/c7/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore