Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Juli 2023 | 14.55 WIB

Tiongkok Sepakati Panduan Percepatan Perundingan Kode Etik Laut China Selatan

Bendera Tiongkok berkibar di salah satu lokasi pembangunan konstruksi di Beijing, Tiongkok. (Istimewa) - Image

Bendera Tiongkok berkibar di salah satu lokasi pembangunan konstruksi di Beijing, Tiongkok. (Istimewa)

JawaPos.com - Tak hanya urusan kerja sama ekonomi yang dibahas dalam pertemuan ASEAN-Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Post Ministerial Conference (PMC) di Jakarta, Kamis (13/7). Kedua belah pihak turut membahas soal isu kawasan, seperti Laut China Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, ASEAN dan RRT telah menyepakati Panduan (Guidelines) untuk mempercepat perundingan Kode Etik (Code of Conduct) di Laut China Selatan. Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Urusan Luar Negeri Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok Wang Yi secara bersama-sama

Dalam sambutan pembukaan, Retno menyampaikan, bahwa RRT adalah mitra penting ASEAN dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik selama lebih dari tiga dekade.

Secara ekonomi, RRT merupakan mitra dagang terbesar ASEAN. Begitu juga sebaliknya. Perdagangan keduanya mencapai USD 975 miliar. RRT juga menjadi sumber investasi asing terbesar keempat bagi ASEAN dengan nilai USD 13,8 miliar di tahun 2021.

"Kemitraan kita semakin penting di tengah tantangan yang semakin meningkat," ujarnya.

Tahun ini, lanjut dia, hubungan ASEAN dan RRT pun menorehkan sejarah penting. Yakni, penyelesaian panduan untuk mempercepat perundingan negosiasi COC yang efektif dan substantif, penyelesaian pembacaan kedua atas draf tunggal perundingan COC, serta peringatan 20 tahun aksesi RRT atas Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC).

"Capaian ini harus terus membangun momentum positif untuk mempererat kemitraan yang memajukan paradigma inklusivitas dan keterbukaan, menghormati hukum internasional termasuk UNCLOS 1982, dan mendorong kebiasaan dialog dan kolaborasi," paparnya.

Karenanya, lanjut dia, kedua belah pihak harus bekerja keras untuk memperkokoh kemitraan tersebut. RRT pun diminta menjadi mitra terpercaya ASEAN dalam merawat arsitektur kawasan yang terbuka dan inklusif.

"Hanya dengan begitu kita bisa mencapai kerja sama yang win-win demi terciptanya perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama di Indo-Pasifik," tegasnya.

Selain itu, Retno juga meminta dukungan RRT terhadap implementasi konkret ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), termasuk rencana penyelenggaraan ASEAN Indo-Pacific Forum (AIPF) bulan September mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Wang Yi menyampaikan dukungan terhadap TAC dan sentralitas ASEAN dalam pembangunan arsitektur kawasan inklusif. Selain itu, dalam pertemuan tersebut, RRT juga mengangkat sejumlah area kerja sama prioritas, seperti pertanian, pengembangan kendaran listrik, ekonomi biru, dan people-to-people contacts.

Pertemuan juga mendorong peningkatan kerja sama ekonomi ASEAN-RRT, termasuk penyelesaian negosiasi Free Trade Areement (FTA) 3.0 untuk memperkuat hubungan dagang dan rantai pasok kawasan. Pertemuan juga menekankan pentingnya revitalisasi konektivitas paska-pandemi, termasuk realisasi komitmen RRT dalam pembangunan infrastruktur kawasan.

Selain itu, pertemuan turut mendorong kerja sama penanganan perubahan iklim, termasuk untuk memastikan ketahanan pangan kawasan, pengembangan energi baru dan terbarukan, dan menyambut baik kemajuan dalam proses negosiasi terkait Laut China Selatan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore